Problem Yang Menyebabkan Nilai Anak Hancur

Nilai atau angka (simbol) tidak menjadi penentu keberhasilan anak di masa depan. Pengalaman yang anak peroleh saat sekolah tidak semua akan digunakan setelah anak dewasa, pendidikan karakter dan menanamkan kesuksesan sejak awal di ladang karakternya adalah pilihan yang tepat untuk mendidik anak.

Ketika anak belajar di sekolah, dirumah bahkan di tempat les pun mereka bisa mengerjakan soal sesulit apapun. Namun mengapa ketika ujian mereka mendapat nilai yang kurang baik?

Hal tersebut mungkin bisa membuat orang tua merasa jengkel atau bahkan marah dan mengeluarkan kata-kata negatif kepada anak mereka ketika hal tersebut terjadi berulang kali.

Berikut adalah problem yang menyebabkan satu masalah dapat terjadi berulang kali:

1. Orang tua perlu menyelidiki kegelisahan terpendam yang ada pada diri anak.

Kegelisahan dapat terjadi karena beberapa aspek, misalnya tuntutan yang terlalu tinggi dari orang tua atau guru mereka. Aspek tersebut membuat anak merasa tidak bisa mengekspos diri mereka secara menyeluruh. Maka saat mereka melaksanakan ujian, di pikiran mereka hanyalah keresahan apa bisa mereka menjalankan tuntutan dari orang tua atau guru mereka .

Saat anak merasakan keresahan yang berlebihan maka mereka tidak bisa berfikiran secara jernih dan mengingat dengan baik apa saja yang telah mereka pelajari, bahkan yang sudah jauh hari mereka persiapkan dirumah untuk menghadapi ujian pun akan terlupakan.

Karena mereka merasa tidak mampu dengan adanya tekanan tersebut Ini juga sering terjadi pada kita para orang tua bukan?. Apa anda masih ingat dahulu masa kuliah ataupun masih duduk di bangku sekolah? Kita tiba-tiba menjadi tidak ingat jawaban yang akan kita tuliskan di lembar ujian, padahal hal tersebut telah kita pelajari tadi malam.

Hal aneh yang terjadi berikutnya, ketika anda sudah mengumpulkan lembar jawaban tersebut tiba-tiba terlintas dipikiran anda jawaban-jawaban yang seharusnya tadi anda tuliskan pada lembar jawaban ujian muncul di pikiran. Sudah pernah anda alami bukan?

Kita sebagai orang tua perlu instropeksi diri, apakah selama ini kita sudah menerima mereka apa adanya sehingga menuntut suatu hal yang malah tidak baik untuk pikiran mereka. Memang semua orang tua ingin anaknya mendapat nilai yang bagus namun tidak demikian cara yang sepatutnya kita berikan kepada anak ketika nilai mereka tiba-tiba turun atau jelek. Pahami dulu perasaannya. Saya yakin anak itupun tidak ingin nilainya jelek, bukan hanya kita.

Mereka hanya ingin di pahami dan di mengerti bukan malah di marahi ketika hal itu terjadi pada mereka. Ada satu kasus dimana seorang anak tidak mau berangkat sekolah karena hari ada ujian. Ujian belum terlaksana dia sudah merasa cemas jika mendapat nilai jelek. Terkadang kita sebagai orangtua sering mengatakan kepada anak ‘’berapapun nilai kamu tidak masalah kok’’. Ternyata pernyataan itu hanya di mulut saja, kenyataannya si anak merasakan hal yang berbeda, dia merasakan tuntutan orangtua yang terlalu tinggi.

Ingat sebenarnya nilai itu hanya mengindikasikan dia sudah bisa atau belum. Bersyukurlah ketika nilai anak anda jelek. Karena apa? Sekarang anda tahu mana yang dia itu belum bisa. Pembelajaran yang baik harusnya ditujukan untuk meningkatkan seorang anak sehingga ia bisa kompeten di dalam bidangnya. Bukan untuk melabel dia pintar atau bodoh.

2. Anak Terlalu Banyak Menerima Perlakuan Negatif

Hukuman yang sering orang tua berikan kepada anak ketika melakukan kesalahan atau mendapat nilai jelek juga bisa menjadi salah satu aspek. Misalnya; harus berdiri di pojok, tidak boleh makan, dan lain-lain yang membuat perlakuan itu membekang di ingatannya.

Ketika dia ujian lagi di lain kesempatan, yang mereka bayangkan di lembar soal ujian hanya ada wajah orang tua mereka yang sedang marah. Atau mungkin wajah guru yang sering mempermalukan kita di depan teman-teman kita. Maka semua yang mereka ingat dan pelajari akan hilang dan jadilah nilai mereka jelek.

Jika ini sudah terjadi sebaiknya anda para orang tua segera minta maaf pada anak anda. Ajak anak anda berbicara dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan ketika anda marah ketika nilai mereka jelek, dan anda harus bisa terima apa adanya apapun jawaban mereka.

‘’Mama minta maaf saat itu mama terlalu berlebihan’’ atau ‘’Saat itu mama lepas kontrol sehingga memarahi kamu terlalu dalam’’ ungkapkan bahwa niat dari memarahi mereka sebenarnya baik. Ajak anak anda berdiskusi ketika nilai mereka jelek, carilah bersama solusi yang terbaik untuk anak. Hal tersebut tentunya jauh lebih baik bagi si anak daripada kita hanya sekedar memarahinya, memintanya belajar, memaksanya belajar tanpa sama sekali mengakui perasaannya untuk di terima apa adanya.

3. Kurangnya Kasih Sayang Dan perhatian Dari Orang Tua

Kebanyakan dari orang tua menyangkal pernyataan ini, mereka merasa sudah menyayangi dan memerhatikan anak mereka dengan baik dan sesuai porsinya. Memang semua orang tua pasti mempunyai rasa sayang kepada anaknya. Namun terkadang perhatian yang kita berikan itu tidak cocok dengan apa yang diinginkan oleh si anak, yang saya maksud dengan perhatian di sini adalah perhatian yang berkualitas.

Selain itu kita juga harus memperhatikan perasaan anak kita. Tidak hanya memperhatikan tugas-tugas yang harus mereka selesaikan. Terkadang orang tua hanya mengontrol sudah mengerjakan tugas sekolah atau belum? Sudah belajar atau belum? Besok ujian, alat tulisnya sudah disiapkan? Bukunya sudah disiapkan belum? Kita hanya memperhatikan aspek-aspek fisik. Sehingga kita melupakan bahwa anak kita juga ingin di perhatikan perasaannya sehingga dia benar-benar merasa diterima secara utuh oleh orang tuanya. Semoga bermanfaat (adm_hspena)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *