Kiat-kiat Menumbuhkan Tanggungjawab Pada Anak

Sebagai orangtua tentunya disibukkan dengan beberapa pekerjaan rumah. Saat itu pula pengawasan terhadap anak tidak bisa dilakukan dengan maksimal.  Pernahkah anda melihat  buah hati memecahkan perabotan rumah atau membuat isi rumah berantakan ? Situasi seperti ini merupakan hal yang wajar, jadi orangtua tidak seharusnya marah terhadap buah hati anda. Namun tidak bisa dipungkiri, kadang orangtua salah menyikapi hal tersebut sehingga mereka memberikan konsekuensi yang tidak sepadan dengan kesalahan anak.

Sebenarnya tujuan orangtua baik yaitu menjadikan anak sebagai pribadi yang disiplin, tetapi  tindakan yang mereka pilih salah, misalnya dengan melakukan perintah-perintah yang menggunakan nada tinggi. Tanpa disadari hal tersebut mampu menyakiti perasaan buah hati anda sehingga mereka enggan melakukan perintah dari orangtua. Dalam memberikan konsekuensi pada anak, seharusnya menggunakan prinsip yang sehat, tanpa harus menyakiti perasaan atau mengurangi harga diri anak.  Berikut ini beberapa langkah dalam memberikan konsekuensi terhadap anak:

  1. Terpusat Pada Permasalahan yang Dilakukan

Terpusat pada permasalahan yang dimaksud yaitu fokus terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anak tanpa mengkaitkan dengan hal-hal disekitar yang tidak bersangkutan. Misalnya ketika anak menjatuhkan gelas, maka konsekuensi yang tepat adalah membersihkan pecahan-pecahan gelas tersebut hingga bersih tanpa tersisa satu keping kaca gelas dengan jangka waktu yang sudah ditentukanoleh orang tua sehingga anak mampu menyepakati pekerjaan tersebut. Pentingnya kesepakatan waktu ini yaitu untuk mendidik anak agar menghargai waktu dan tepat dalam menyelesaikan tanggung jawabnya.

Orangtua sebaiknya menghindari konsekuensi yang tidak berkaitan dengan kesalahan anak, misalnya orangtua tidak mengizinkan anak bermain dengan teman sebayanya atau mereka tidak diberikan uang jajan ketika pergi kesekolah. Jangan sekali-kali melampiaskan kekesalan anda terhadap buah hati yang dapat memperpanjang masalah sehingga berhubungan dengan konsekuensi yang ditanggungnya.. Saat orangtua fokus pada masalah yang terjadi, maka mudah bagi anak untuk mengetahui letak kesalahan mereka

2 Masuk Akal dan Wajar

Perkembangan anak tentunya menjadi tanggungjawab besar bagi orangtua,  sehingga orangtua perlu melakukan pengawasan yang ketat.  Melihat perkembangan anak yang berbeda, maka orangtua harus memberikan konsekuensi yang sepadan dengan usia dan kemampuan anak. Anak yang berusia 7 tahun tentunya memiliki kemampuan yang berbeda dengan anak yang berusia 5 tahun, maka dari itu sebelum melakukan suatu pekerjaan harusnya orangtua memberikan contoh terlebih dahulu pada anak.

Selain memberikan contoh, hal lain yang dapat dilakukan yaitu memberikan bantuan pada anak. Maksud dari membantu disini yaitu ikut menyelesaikan konsekuensi yang sedang dikerjakan. Misalnya orangtua turut serta membersihkan pecahan gelas yang jatuh. Membantu anak dalam menyelesaikan pekerjaan ini dapat berpengaruh pada emosional anak sehingga tercipta kedekatan antara orangtua dengan anak.

3 Kesalahan adalah Pengalaman Belajar Anak

Konsekuensi bertujuan untuk  memberikan pengalaman belajar  dari kesalahan yang terjadi dimana dari hal yang tidak paham menjadi paham. Sebelum konsekuensi dilaksanakan, seharusnya orangtua memberikan pemahaman terhadap anak mengenai tindakan yang benar dan yang salah.

Jika orangtua sudah memberikan informasi, namun anak tetap melanggar maka konsekuensi bisa dilaksanakan. Konsekuensi merupakan sarana untuk mempertegas perilaku bahwa jika terjadi kesalahan maka harus bertanggungjawab pada perbuatan yang telah dilakukan sehingga harus diperbaiki.  Konsekuensi bukanlah sarana bagi orangtua untuk melampaskan kekesalan mereka. Orangtua tidak boleh mengungkit-ungkit kesalahan yang telah terjadi, justru hal yang harus dilakukan adalah memberikan pemahaman mengenai perilaku yang baik. Misalnya memberikan penjelasan yang benar dalam bertindak. Setelah anak menyelesaikan konsekuensinya, sebaiknya orangtua sudah tidak membicarakannya kembali.

4 Menjaga Harga Diri

Orangtua sebaiknya menghindari berperilaku kasar misalnya berkata menggunakan nada tinggi,membentak, bahkan memaki anak. Hal ini tidak boleh dilakukan didepan anak maupun didepan kalayak umum, karena dapat menyakiti perasaan anak sehingga bisa merusak harga dirinya. Apabila orangtua sudah menjalankan kesepakatan dan aturan dengan anak, maka perilaku mereka akan terbentuk dengan baik. Begitupun jika mereka membuat suatu kesalahan, maka mereka akan bertanggungjawab menanggung konsekuensi yang telah disepakati.

 Jika anda sudah memiliki aturan dan konsekuensi yang jelas keteraturan dan disiplin anak akan terbentuk dengan baik. Contoh kecilnya yaitu seperti dijalan raya, ketika lampu merah maka mereka akan berhenti mengikuti rambu-rambu lalu lintas. Konsekuensi yang ditanggung apabila mereka tetap berjalan yaitu tertabrak kendaraan. Jadi, pemberian konsekuensi dari orangtua haruslah jelas tanpa menurunkan harga diri anak dilingkungannya.

Sumber: Homeschooling Pena

Aspek Penting Yang Harus Di Tanamkan Pada Buah Hati

Sebagai orangtua, memenuhi kebutuhan buah hati merupakan hal yang sudah menjadi kewajiban. Selain itu orang tua adalah figur pertama yang di contohnya dalam melakukan segala hal dari mulai cara berbicara, memberinya pengetahuan sebelum mereka mengenal dunia luar, bahkan ada beberapa aspek yang perlu orang tua ketahui dalam mendidik buah hati.

Berikut adalah aspek yang harus di tanamkan pada buah hati:

1. Disiplin

Melalui disiplin buah hati diajarkan tentang bagaimana berperilaku dengan cara-cara yang sesuai dengan standar kelompok sosialnya. Maka jelaslah bahwa orang tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab terhadap pembentukan perilaku moral buah hatinya di rumah. Kesalahan atau ketidakketatan dalam penanaman kedisiplinan sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan  perilaku buah hati. Sedangkan penanaman disiplin yang tepat akan menghasilkan terbentuknya perilaku moral yang baik atau positif bagi buah hati kita.

2. Jujur

Ada 2 sikap jujur yang harus di terapkan pada buah hati, dalam perkataan yang berarti tidak boleh berbohong tentang perkataan atau perbuatan, misalnya; mengakui kesalahan baik disengaja maupun tidak, anak yang jujur berarti tidak takut menerima akibat perbuatannya; berkata jujur adalah menceritakan kejadian yang sebenarnya; berkata jujur harus dibarengi tindakan yang benar, misal anak mengatakan baju temannya jelek, rumah itu jelek. Tentu jujur di sini tidak tepat. Hendaknya buah hati kita diajarkan berkata hal yang sebenarnya dalam konteks yang sesuai.

Selanjutnya jujur dalam perbuatan yaitu jujur berbuat yang benar, misalnya; saling mengasihi, berbagi, dan tolong menolong; tidak melanggar peraturan; tidak mencontek; tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas, tidak bertindak curang dengan menyerobot antrian; tidak mengambil barang yang bukan miliknya, jujur dengan tidak melakukan perbuatan yang salah untuk mencapai tujuan, misalnya; menyuap.

Orang tua sangat berperan penting terhadap tumbuh kembang dan perilaku buah hati. Menanamkan sikap jujur harus dimulai sedini mungkin karena usia dini adalah usia emas yang sangat baik untuk menanamkan kepribadian. Pembelajaran dari pengalaman yang di dapat juga akan lebih cepat tersimpan dalam memori buah hati yang nantinya akan memengaruhi kepribadiannya hingga dewasa.

3. Tanggung jawab

“Learning by doing” adalah suatu metode pembelajaran yang mengajak buah hati belajar dengan cara melakukan. Kelebihan metode ini adalah buah hati diajarkan banyak hal dengan lebih melibatkan mereka untuk melakukan sesuatu sesuai dengan materi apa yang dipelajari. Sehingga tugas orang tua hanyalah mengamati dan membimbing. Ada kalanya membiarkan mereka melakukan kesalahan, supaya mereka bisa belajar dari kesalahan mereka sendiri. Agar mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri serta bertanggung jawab. Biarkan mereka menenteng tas sendiri, membuka pintu sendiri, dan mengerjakan tugas-tugas mereka sendiri.

Misalnya, mendapatkan tugas yang sulit dari guru. Sebagai orang tua, anda tidak boleh langsung mengajarinya, apalagi mengambil alih tugas anak untuk dikerjakan orang tua. Biarkan mereka merasakan berada di situasi yang sulit, dan tugas orang tua adalah membimbing, mengarahkan, serta menyemangati.

4. Menghormati orang lain

Empati merupakan salah satu faktor penting dalam membangun rasa toleran dan belas kasih. Anak yang memiliki empati, selalu berusaha memahami kebutuhan orang lain sehingga memiliki kepedulian untuk membantu orang lain yang memiliki masalah. Oleh karenanya akan sulit jika menghargai dan menghormati tanpa memiliki empati.

Untuk menanamkan empati pada anak dapat dilakukan dengan cara menjalin hubungan yang positif dan kepedulian kepada mereka. Sehingga ketika kita melihat si kecil berkata kasar atau mencela orang lain melalui kata-kata atau perilaku, maka orangtua bisa menjelaskan pada mereka bagaimana perasaan orang lain yang terluka karena kata-kata atau perilakunya. Orang tua juga mesti fokus pada perasaan, bukan tindakan.

Buah hati anda akan melihat bagaimana perilaku anda dalam kehidupan sehari-hari. Apapun yang anda lakukan, itu akan ditiru oleh buah hati anda dan apapun yang dilakukan anak itu merupakan cerminan dari diri anda maka jadilah contoh yang baik bagi anak. (adm_hspena)

Problem Yang Menyebabkan Nilai Anak Hancur

Nilai atau angka (simbol) tidak menjadi penentu keberhasilan anak di masa depan. Pengalaman yang anak peroleh saat sekolah tidak semua akan digunakan setelah anak dewasa, pendidikan karakter dan menanamkan kesuksesan sejak awal di ladang karakternya adalah pilihan yang tepat untuk mendidik anak.

Ketika anak belajar di sekolah, dirumah bahkan di tempat les pun mereka bisa mengerjakan soal sesulit apapun. Namun mengapa ketika ujian mereka mendapat nilai yang kurang baik?

Hal tersebut mungkin bisa membuat orang tua merasa jengkel atau bahkan marah dan mengeluarkan kata-kata negatif kepada anak mereka ketika hal tersebut terjadi berulang kali.

Berikut adalah problem yang menyebabkan satu masalah dapat terjadi berulang kali:

1. Orang tua perlu menyelidiki kegelisahan terpendam yang ada pada diri anak.

Kegelisahan dapat terjadi karena beberapa aspek, misalnya tuntutan yang terlalu tinggi dari orang tua atau guru mereka. Aspek tersebut membuat anak merasa tidak bisa mengekspos diri mereka secara menyeluruh. Maka saat mereka melaksanakan ujian, di pikiran mereka hanyalah keresahan apa bisa mereka menjalankan tuntutan dari orang tua atau guru mereka .

Saat anak merasakan keresahan yang berlebihan maka mereka tidak bisa berfikiran secara jernih dan mengingat dengan baik apa saja yang telah mereka pelajari, bahkan yang sudah jauh hari mereka persiapkan dirumah untuk menghadapi ujian pun akan terlupakan.

Karena mereka merasa tidak mampu dengan adanya tekanan tersebut Ini juga sering terjadi pada kita para orang tua bukan?. Apa anda masih ingat dahulu masa kuliah ataupun masih duduk di bangku sekolah? Kita tiba-tiba menjadi tidak ingat jawaban yang akan kita tuliskan di lembar ujian, padahal hal tersebut telah kita pelajari tadi malam.

Hal aneh yang terjadi berikutnya, ketika anda sudah mengumpulkan lembar jawaban tersebut tiba-tiba terlintas dipikiran anda jawaban-jawaban yang seharusnya tadi anda tuliskan pada lembar jawaban ujian muncul di pikiran. Sudah pernah anda alami bukan?

Kita sebagai orang tua perlu instropeksi diri, apakah selama ini kita sudah menerima mereka apa adanya sehingga menuntut suatu hal yang malah tidak baik untuk pikiran mereka. Memang semua orang tua ingin anaknya mendapat nilai yang bagus namun tidak demikian cara yang sepatutnya kita berikan kepada anak ketika nilai mereka tiba-tiba turun atau jelek. Pahami dulu perasaannya. Saya yakin anak itupun tidak ingin nilainya jelek, bukan hanya kita.

Mereka hanya ingin di pahami dan di mengerti bukan malah di marahi ketika hal itu terjadi pada mereka. Ada satu kasus dimana seorang anak tidak mau berangkat sekolah karena hari ada ujian. Ujian belum terlaksana dia sudah merasa cemas jika mendapat nilai jelek. Terkadang kita sebagai orangtua sering mengatakan kepada anak ‘’berapapun nilai kamu tidak masalah kok’’. Ternyata pernyataan itu hanya di mulut saja, kenyataannya si anak merasakan hal yang berbeda, dia merasakan tuntutan orangtua yang terlalu tinggi.

Ingat sebenarnya nilai itu hanya mengindikasikan dia sudah bisa atau belum. Bersyukurlah ketika nilai anak anda jelek. Karena apa? Sekarang anda tahu mana yang dia itu belum bisa. Pembelajaran yang baik harusnya ditujukan untuk meningkatkan seorang anak sehingga ia bisa kompeten di dalam bidangnya. Bukan untuk melabel dia pintar atau bodoh.

2. Anak Terlalu Banyak Menerima Perlakuan Negatif

Hukuman yang sering orang tua berikan kepada anak ketika melakukan kesalahan atau mendapat nilai jelek juga bisa menjadi salah satu aspek. Misalnya; harus berdiri di pojok, tidak boleh makan, dan lain-lain yang membuat perlakuan itu membekang di ingatannya.

Ketika dia ujian lagi di lain kesempatan, yang mereka bayangkan di lembar soal ujian hanya ada wajah orang tua mereka yang sedang marah. Atau mungkin wajah guru yang sering mempermalukan kita di depan teman-teman kita. Maka semua yang mereka ingat dan pelajari akan hilang dan jadilah nilai mereka jelek.

Jika ini sudah terjadi sebaiknya anda para orang tua segera minta maaf pada anak anda. Ajak anak anda berbicara dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan ketika anda marah ketika nilai mereka jelek, dan anda harus bisa terima apa adanya apapun jawaban mereka.

‘’Mama minta maaf saat itu mama terlalu berlebihan’’ atau ‘’Saat itu mama lepas kontrol sehingga memarahi kamu terlalu dalam’’ ungkapkan bahwa niat dari memarahi mereka sebenarnya baik. Ajak anak anda berdiskusi ketika nilai mereka jelek, carilah bersama solusi yang terbaik untuk anak. Hal tersebut tentunya jauh lebih baik bagi si anak daripada kita hanya sekedar memarahinya, memintanya belajar, memaksanya belajar tanpa sama sekali mengakui perasaannya untuk di terima apa adanya.

3. Kurangnya Kasih Sayang Dan perhatian Dari Orang Tua

Kebanyakan dari orang tua menyangkal pernyataan ini, mereka merasa sudah menyayangi dan memerhatikan anak mereka dengan baik dan sesuai porsinya. Memang semua orang tua pasti mempunyai rasa sayang kepada anaknya. Namun terkadang perhatian yang kita berikan itu tidak cocok dengan apa yang diinginkan oleh si anak, yang saya maksud dengan perhatian di sini adalah perhatian yang berkualitas.

Selain itu kita juga harus memperhatikan perasaan anak kita. Tidak hanya memperhatikan tugas-tugas yang harus mereka selesaikan. Terkadang orang tua hanya mengontrol sudah mengerjakan tugas sekolah atau belum? Sudah belajar atau belum? Besok ujian, alat tulisnya sudah disiapkan? Bukunya sudah disiapkan belum? Kita hanya memperhatikan aspek-aspek fisik. Sehingga kita melupakan bahwa anak kita juga ingin di perhatikan perasaannya sehingga dia benar-benar merasa diterima secara utuh oleh orang tuanya. Semoga bermanfaat (adm_hspena)

Guru Indonesia Agen Perubahan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen GTK Kemendikbud) mengirimkan 1.200 Pendidik dan Tenaga Kependidikan tingkat PAUD, PKBM, LKP hingga SMA/SMK untuk mengikuti training ke 12 Negara; Antara lain Australia, Selandia Baru, India, Korea Selatan, Jerman, Jepang, Prancis, Singapura, Tiongkok, Belanda, Malaysia dan Thailand selama 21 hari dengan mengemban misi Guru Indonesia Agen Perubahan. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk implementasi program pemerintah dalam memajukan karakteristik pendidikan nasional, dengan cara mengangkat karakteristik sumber daya manusia (SDM) para Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Salah satu yang beruntung mengikuti program ini adalah Supriadi; CEO & Founder Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Homeschooling Pena Surabaya. Beliau dan 350 Peserta lainnya berkesempatan menimba ilmu di Negeri China selama 3 Pekan di Jiangsu Normal University. Selama disana banyak pengalaman menarik melalui kegiatan workshop, pelatihan, school visit, social visit dan Seminary. Banyak hal yang bisa diadobsi dari sistem pendidikan di China; Salah satunya STEM Teaching and Learning yang cocok sekali diterapkan di Homeschooling Pena; Tidak hanya interaktif tapi sistem ini menuntut Peserta Didik untuk berpikir kritis, Kreatif dan Kolaboratif, Papar Beliau.

Guru adalah Inspirator, Motivator, Katalisator dan Penjaga Gawang

Kedatangan 1.200 Pendidik dan Tenaga Kependidikan di Jakarta disambut oleh Dirjen GTK Kemendikbud; Supriano “Kami harap Anda dapat melakukan perubahan karena sejatinya guru adalah Inspirator, Motivator, Katalisator dan Penjaga Gawang. Sampaikan dan ceritakan kepada siswa dan guru lainnya saat upacara di sekolah. Ceritakan pengalaman yang dapat menginspirasi dan memotivasi mereka selama Bapak dan Ibu belaja di luar negeri”. ujar beliau, Senin (25/3).  

Kedatangan peserta pelatihan juga turut disambut oleh tiga pejabat lain yakni; Dirjen GTK Kemendikbud, Direktur Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus; Renani Pantjastuti, Direktur Tenaga Kependidikan; Santi Ambarukmi beserta Kepala Bagian Umum dan Kerjasama; Soesilo. Para Peserta juga dihimbau untuk menularkan pengalaman mereka selama belajar di luar negeri di berbagai media, terlebih di media sosial untuk diviralkan guna memberi manfaat kepada khalayak luas.  

Supriano juga menghimbau setelah menuntut ilmu di luar negeri, Mereka mampu menjadi Guru Indonesia Agen Perubahan dimana saja mereka berada, serta mampu mengimplemtasikan ‘Teori Sungai’ dari Tiongkok yang meliputi 4 hal, yakni; Mengikuti arus, mempelajari arus, membentuk arus dan menciptakan arus. 

Untuk menghasilkan mutu pendidikan yang bagus ditentukan oleh 4 faktor: Kebijakan dari pusat, Sarana Prasarana yang mendukung, Manajemen yang profesional dan kompetensi Guru. ” Proses pembelajaran yang baik 80% ditentukan di kelas. Untuk menghasilkan guru yang kompeten itulah Anda dikirim ke luar negeri. Jadi, Bapak/Ibu dikirim untuk perbaikan proses pembelajaran dan menjawab tantangan ke depan; Yakni pembelajaran abad 21 di era revolusi industri 4.0′. Pungkas Supriano

Tagline Baru Di Ulang Tahun Ke 5 Homeschooling Pena

H omeschooling Pena telah melewati masa-masa kecilnya, Karena di Bulan Oktober ini adalah hari ulang tahunnya; 5th Anniversary Homeschooling Pena ; Tepatnya pada tanggal 05 Oktober 2013, 5 tahun yang lalu Homeschooling Pena resmi didirikan. Adalah Bapak Supriadi, S. Pd., M.M., seorang figur yang berperan penting dalam inisiasi pendirian Lembaga ini, Beliau adalah CEO sekaligus Founder Homeschooling Pena. Walaupun usianya tergolong belia, baru berusia lima Tahun namun Homeschooling Pena telah terbukti sangat berdedikasi dalam peran sertanya memajukan pendidikan di Indonesia terutama di Kota Surabaya. Dalam lima Tahun berkecimpung di ranah pendidikan non formal, Homeschooling Pena sudah banyak mengukir prestasi gemilang, Banyak penghargaan sudah diraih dengan luar biasa, baik di tingkat Kota Surabaya, di tingkat Provinsi Jawa Timur dan di tingkat Nasional. Klik disini untuk melihat Prestasi dan Penghargaan Homeschooling Pena.

 


Di ulang tahun yang ke lima ini, Homeschooling Pena merayakan dengan acara yang  sederhana dan penuh kebersamaan. Kantor Homeschooling Pena yang berlokasi di Jalan Ketintang Baru III No. 03 Surabaya itu terlihat sangat ramai siang itu. Ada banyak Peserta Didik, Beberapa Orangtua, Para Tutor dan beberapa rekanan Homeschooling Pena mengikuti acara ‘Tumpengan 5th Anniversary’ yang digelar sebagai ungkapan syukur terhadap Allah SWT; Tuhan YME dan memberi ‘Ucapan Selamat’; atas segala prestasi dan anugerah yang telah dikaruniakan dengan luar biasa. Acara ulang tahun dimulai dengan menyanyikan lagu ulang tahun dan tiup lilin Anniversary dan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Tumpeng pertama dipotong dan diberikan kepada Pena Parents Club oleh Bapak Supriadi. Pena Parents Club ini adalah Paguyuban Orangtua Peserta Didik Homeschooling Pena yang banyak berkontribusi membantu setiap pelaksanaan kegiatan-kegiatan Homeschooling Pena baik yang dilaksanakan di dalam maupun di luar sekolah. Tumpeng berikutnya diberikan kepada rekanan Homeschooling Pena; STIE IBMT Surabaya, Bank Mandiri, HRV Club Indonesia Region Jatim, dan kerabat  yang hadir saat itu.

 

U sai menikmati makan siang bersama sembari bincang santai acara tumpengan ulang tahun ke lima Homeschooling Pena, Pak Adie; sapaan akrab Founder mencanangkan tagline baru untuk usia lima tahun lembaga; ‘Hand In Hand We Learn In Different Way’. Tag line baru ini tentunya untuk semangat yang baru pula. Acara tumpengan diakhiri dengan pelapasan lima ekor burung merpati. Pelepasan burung itu  sebagai simbol dari lima Tahun hebat Homeschooling Pena dalam berperan serta turut mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia; membantu Dinas terkait dalam hal ini Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia; Dinas Pendidikan Kota Surabaya dalam meberikan layanan pendidikan yang  layak untuk warga Kota Surabaya. Semoga Homeschooling Pena terus bisa berprestasi dan semakin lebih baik di masa-masa mendatang, semoga selalu menjadi Pena Emas yang mencerdaskan Bangsa Indonesia.

 

SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 5 HOMESCHOOLING PENA (Admin HS. Pena)

 

Field Trip Homeschooling Pena 2018

H omeschooling Pena membuat konsep kegiatan belajar di luar kelas; Out Door Activities sebagai  implementasi pendidikan karakter dan sebagai sarana sosialisasi. Salah satunya Field Trip yang konsepnya learning by doing; Belajar  langsung dengan kondisi atau lingkungan riil. Kegiatan Field Trip kali ini dilaksanakan pada hari Senin, 03 September 2018 di PT Yakult Ngoro dan Museum Trowulan Mojokerto.

Pagi itu, Dengan penuh semangat Kami berkumpul tepat pukul 08.00 WIB di KFC A. Yani Surabaya untuk berangkat bersama teman-teman dan para guru. Tepat pukul 09.00 WIB Kami menuju Bus. Setelah berdoa bersama, Kami memulai perjalanan menuju lokasi pertama ke PT Yakult Ngoro Mojokerto. Dalam perjalanan Kami menikmati makanan ringan yang telah di sediakan dari Sekolah. Kami sangat senang dan bersemangat sekali mengikuti kegiatan ini. Kami saling bercrengkrama dengan teman-teman yang lain Selma salami perjalanan, Karena Kami mengerti ini women dimana Kami harus belajar bersosialisasi.

Tepat pukul 11.00 WIB, Kami tiba di PT. Yakult Ngoro Mojokerto setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam dari Surabaya. Kami harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya Kami dibawa ke sebkha ruangan besar dimana Kami mendapat edukasi tentang semua proses di Perusahaan ini.

Namun sayang sekali selama di dalam ruangan pengolahan dan produksi kita semua dilarang untuk memotret ataupun mengambil video. Kami mengerti memang ini standar aturan Perusahaan yang harus Kami patuhi. Banyak sekali pengetahuan dan pengalaman baru yang Kami dapatkan disini, yang awalnya hanya tahu minuman Yakult melalui iklan Televisi dan sudah terkemas di Swalayan sekitar, sekarang Kami sudah mengetahui bagaimana proses pengolahan Yakult dari pengembangan bakteri baiknya, proses fermentasinya, proses pengisian Yakult ke botol kemasannya, proses filter packing Yakult jika ada kemasan yang rusak sedikitpun harus di sisihkan, hingga proses pemasaran Yakult di seluruh Dunia. Ternyata manfaat dan mutu Yakult memang sangat bagus dan steril, seht dan aman nutum dikonsumsi.

Setelah melihat prosesnya, Kami di ajak menuju suatu ruangan untuk melihat kilas balik PT Yakult melalui layar proyektor. Disini kitaa diperbolehkan mengambil gambar untuk dokumentasi karna sudah tidak di ruangan produksi. Setelah menyaksikan tayangan tersebut, kami semua memasuki sesi tanya jawab mengenai manfaat dan keamanan Yakult jika diminum lebih dari 1 botol dalam sehari baik atau tidak untuk tubuh kita ? Banyak dari orang awam masih
salah presepsi mengenai hal ini. Ternyata setelah dijelaskan Yakult aman dikonsumsi berapa botol pun sehari, karena yang lebih penting manfaat untuk tubuh ketika kita mengkonsumsi Yakult rutin setiap hari bukan seberapa banyak
dalam sehari.

Setelah mendapatkan banyak pelajaran disini, Kamipun mengakhiri kegiatan kunjungan di PT. Yakut dengan berfoto bersama dengan perwakilan Manajemen PT Yakult Ngoro Mojokerto.

P erjalanan kami lanjutkan menuju destinasi kedua yaitu Museum Trowulan Mojokerto, dari Pt Yakult ke Museum Trowulan hanya dibutuhkan jarak tempuh sekitar 1 jam. Setibanya di Museum Trowulan Kami semua istirahat dan makan siang bersama terlebih dahulu sebelum masuk ke Museum Trowulan. Dimulai dari penjelasan mengenai Kehidupan Masa Majapahit. Lalu peninggalan-peninggalan bersejarah dan patung-patung pada zaman dahulu. Kami mendapat banyak sekali pengetahuan dan ilmu mengenai Kerajaan Majapahit sehingga Kami bisa mengerti dan memahami bahwa sebelum Kemerdekaan juga ada kehidupan pada zaman pra-aksara.

Banyak sekali pengetahuan baru yang Kami dapat melalui kegiatan Field Trip ini. Ini Kegiatan yang sangat positif Tidak hanya belajar, Kami juga bisa demain bersosialisasi. Sudah tidak sabar untuk mengikuti kegiatan berikutnya. Homschooling Pena… Kereennnn… (Ardelia Nabilah Syarlita; Kelas X IPS)

Langkah-Langkah Memulai Pembelajaran Homeschooling

Masih banyak sekali pertanyaan yang muncul dari kalangan masyarakat yang hendak menginginkan melakukan metode pembelajaran homeschooling pada anaknya, rata- rata mereka yang menanyakan hal tersebut adalah orang yang pertama kali atau orang yang baru akan melakukan metode ini.

belajar di rumahSaat anda hendak memutuskan untuk menggunakan metode ini, berikut ini beberapa cara praktis yang patut anda simak agar anda tak kesulitan saat akan memulai homeschooling.

  1. Gunakan waktu sebanyak mungkin untuk mengamati anak anda saat belajar dan bermain.Perhatikan dengan seksama cara belajar dan bermain mereka, sehingga anda bisa menemukan apa yang menjadi bakat dan minat mereka. Anda bisa memikirkan kegiatan seperti apa yang bisa anda gunakan untuk mengembangkan bakatnya tersebut, untuk membantu menemukannya anda bisa sembari membicarakan tentang topic- topic yang menyinggung kegiatan tersebut.
  1. Beri kesempatan untuk anak anda menentukan keputusan dan membuat pilihan kegiatan yang ingin dilakukan.Dia akan menentukan pilihan mereka dan itu akan membuat dirinya senang saat belajar, sembari anda juga bisa mengembangkan potensi dalam dirinya. Setiap anak memiliki hal yang tak disenangi, pikirkan pula caranya agar anda bisa mengubah cara pikirnya sehingga anda bisa melakukan pendekatan padanya.
  1. Usahakan untuk melibatkan keluarga besar atau teman dekat dalam kegiatan belajar dirumah.Ini akan membuat dirinya tertarik pada kegiatan yang anda buat dan bersenang- senang bersama orang- orang yang berarti baginya. Selain hal itu, anda akan juga mendapatkan banyak dukungan dari orang- orang yang anda cintai untuk kegiatan belajar di rumah yang anda terapkan.
  1. Berilah sedikit hal atau kegiatan yang bertujuan untuk menekankan nilai- nilai keluarga pada anak anda.Anda bisa mengembangkan nilai kekeluargaan pada anak anda dengan mengajaknya melakukan berbagai macam aktifitas. Seperti membuat kue, membuat kartu, melukis, memetik bunga, atau mengajarkan untuk memberi sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan. Sehingga jiwa sosialnya juga bisa muncul pada diri sang anak.
  1. Apabila anda mengeluarkan anak anda dari sekolah, anda harus mempersiapkan terlebih dahulu keadaan homeschoolingnya sehingga adaptasi sang anak bisa cepat dan malah tidak mengganggu belajarnya.

Bila perlu mintalah bantuan kepada teman atau anggota keluarga anda untuk membantunya menjalani masa transisinya dari yang dulunya belajar di sekolah berubah ke belajar di rumah. Anda bisa merencanakan sebuah kegiatan untuk menarik kemauan anak anda dengan melakukan kegiatan yang tak mungkin bisa didapatkan di sekolahnya.

Tentunya peran orang tua sangat diperlukan dalam melakukan system homeschooling, karena sang orangtualah yang berperan dalam mendidik anaknya. Bila anda merasa diri anda tidak mampu untuk melakukan pengajaran langsung kepada anak anda, anda bisa meminta bantuan guru privat atau tenaga profesional untuk melakukannya. Tentunya dibawah pengawasan anda agar tak ada hal yang salah dalam metode pembelajarannya.

Semarak Pekan Lomba Agustus Homeschooling Pena 2018

P eringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke 73 pada tahun 2018 ini diwarnai dengan keseruan lomba-lomba Agustusan dimana-mana termasuk di Homeschooling pena. Hari kemerdekaan merupakan tonggak sejarah perjuangan bangsa yang harus terus kita pertahankan. Maka sudah sepatutnya kita sebagai Bangsa Indonesia mengenang jasa-jasa pahlawan kita yang sudah membela bangsa Indonesia di dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dengan  turut serta memeriahkan pesta kemerdekaan ini.

Homeschooling Pena punya cara tersendiri dalam mengemas event lomba Agustusan yang sudah menjadi event annual; diselenggarakan setiap tahun. Peserta Didik Homeschooling Pena  wajib berpartisipasi dalam memperingati Peraayaan HUT Kemerdekaan RI yang ke-73 dengan mengikuti berbagai macam perlombaan yang diadakan oleh Sekolah yang diselenggarakan pada setiap hari Senin selama Bulan Agustus. Tahun ini lomba-lomba diselenggarakan dengan konsep outdoor di Taman Bungkul Surabaya sebagai implementasi konsep pendidikan karakter; yakni menanamkan jiwa nasionalisme dengan tujuan utama memberi kesempatan untuk bersosialisasi. Berikut lomba-lomba yang dihelat diantaranya yaitu :

  1. Lomba Lari Karet Estafet
    Karet di taruh di sedotan peserta pertama kemudian karet didistribusikan secara estafet ke peserta kedua yang juga membawa sebuah sedotan, lalu ke peserta ketiga, selanjutnya di masukkan ke dalam wadah. Kesabaran, keuletan dan kekompakkan sangat diperlukan dalam permainan ini, karena jika terlalu terburu karet akan jatuh dan permainan harus di mulai dari awal lagi.
  2. Lomba Memasukkan Paku dalam Botol
    Paku diikat dengan seutas tali kemudian dililitkan di pinggang dan peserta lomba berusaha memasukkan paku tersebut ke dalam botol. Diperlukan fokus dan keseimbangan untuk menjaga paku tidak bergoyang-goyang dan kemampuan memperkirakan ujung paku masuk dalam mulut botol sangat diperlukan.
  3. Makan Krupuk
    Dalam lomba ini para peserta berusaha memakan kerupuk yang digantung di atas tali yang ditempatkan di atas kepala para pemain. Tujuan permainan adalah menghabiskan kerupuk yang digantung dan pemenangnya adalah yang berhasil menghabiskannya pertama kali. Makan kerupuk tentu saja mudah, tapi coba lakukan dengan tangan yang diikat di belakang dan tak boleh digunakan untuk membantu memegang krupuk yang bergoyang-goyang.
  4. Mengapit Balon
    Balon diapit dengan kedua kaki oleh peserta pertama dan perjalan menuju peserta kedua dengan saling berpegangan dan tanpa meyentuh balon mereka berusaha memindahkan balon tersebut ke peserta selanjutnya, sampai ke peserta teraakhir yaitu peserta keempat yang akan berjalan mengapit balon menuju garis finish.
    Permainan ini tentunya dibutuhkan kekompakan dan kerjasama Tim dan juga keseimbangan karena jika tidak maka balon akan terjaatuh dan permainan harus diulang dari awal.
  5. Membaca Teks Proklamasi
    Lomba ini diikuti oleh peserta secara individu, mereka membacakan Teks Proklamasi di depan publik; teman teman, Orangtua dan Panitia lomba. Tujuan diadakannya perlombaan ini adalah agar  setup peserta didik berani tampil di depån mum dan bisa mengenang sera menghargai jasa-jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
  6. Mewarnai dan Menggambar Topi Contong
    Peserta Didik menggambar di kertas manila yang sudah dibentuk berupa topi kerucut dengaan tema “Perjuangan” sesuai dengan kreasi mereka masing-masing. Kemudian setelah digambar mereka memberikan warna pada gambar yang Sudan dibuat.
    Pelajaran yang di dapatkan yaitu mereka bisa menggambarkan bagaimana dan apa saja peralataan serta keadaan ketika pada jaman perjuangan dahulu sebelum merdeka. Tujuannya adalah menanamkan rasa syukur akan anugerah kemerdekaan ini.
  7. Menangkap Belut
    Lomba ini diikuti oleh peserta secara individu, dengan memindahkan belut satu persatu menggunakan tangan kosong dan berlari dari wadah satu ke wadah lainnya. Penilaian dilakukan berdasarkan siapa paling cepat memindahkan belut sebanyak 2 ekor ke dalam wadah lainnya.
    Tentunya permainan ini sangat membutuhkan ketangkasan dan keberanian karena tekstur belut yang sangat licin ditambah dengan gerakannya yang sangat aktif maka peserta harus bisa cepat dan tepat dalam memindahkan belutnya.

P esan moral dari kegiatan lomba-lomba Agustusan ini adalah ‘Kemerdekaan tidak diraih dengan gratis, tapi dengan perjuangan keras berdarah-darah. Sudah sepatutnya generasi muda Bangsa Indonesia bisa menghargai arti kemerdekaan ini dengan mengisi dengan hal-hal positif dan prestasi-prestasi membanggakan’. Masih ada banyak lagi lomba yang mereka ikuti lainnya. Para Peserta didik sangat senang dan sangat bersemangat mengikuti setiap perlombaan. Tentunya Homeschooling Pena akan memberikan apresiasi dan hadiah kepada semua peserta lomba dan para pemenang yang akan diberikan pada kegiatan Outbond di awal Semester II 2018/2019 nanti.

DIRGAHAYU INDONESIAKU… JAYALAH SELALU

Homeschooling Pena Dapat Penghargaan Wali Kota Surabaya

P eringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI yang ke-73 menjadi momen spesial bagi Homeschooling Pena yang merupakan homeschooling berprestasi di Kota Surabaya, Pasalnya pada upacara bendera yang diadakan pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 2018 yang dipimpin langsung oleh Walikota Surabaya; Ibu Tri Rismaharini itu Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Tutor Homeschooling Pena mendapatkan penghargaan dari Walikota Surabaya sebagai Warga Kota Surabaya Berprestasi dan Berdedikasi.

Supriadi, S.Pd., M.M., CEO sekaligus Founder Homeschooling Pena secara khusus dihadirkan di Balai Kota Surabaya pada upacara peringatan HUT Kemerdekaan Tahun 2018 karena dedikasinya dalam memajukan Pendidikan Non Formal di Kota Surabaya. Telah banyak prestasi hebat yang diraih Homeschooling Pena baik di tingkat Kota Surabaya, di tingkat Provinsi Jawa Timur bahkan Tingkat Nasional. Tercatat di tingkat Nasional; P. Adi, sapaan akrabnya berhasil membawa harum nama Kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur dengan meraih Juara II Kategori Pengelola PKBM pada Lomba GTK PAUD Dikmas Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2018 yang diselenggarakan di Pontianak. Sebelumnya di Bulan Agustus Tahun 2017, P. Adi juga berhasil mendapatkan Penghargaan ‘ Sekolah Keren 2017’ dari Ditjen Pendidikan Keluarga, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia.

‘Prestasi ini untuk Kita semua; untuk Keluarga Besar Homeschooling Pena, Anak-anak Surabaya, Orangtua Peserta Didik atas segala dukungan dan kepercayaan, Staf Manajemen beserta semua Pengajar dan semua kerabat; Pena Parents Club. Terus berikan yang terbaik’ Ungkapnya dengan penuh semangat motivasi.

Selain Ketua PKBM Homeschooling Pena, salah satu Tutor Homeschooling Pena; Toni Purwanto juga mendapatkan penghargaan dari Walikota Surabaya. Salah satu Tutor favorit Peserta Didik Homeschooling Pena yang mengampu mata pelajaran IPS itu karen berhasil meraih Juara I Tutor Pendidikan Kesetaraan Paket C; Lomba GTK PAUD Dikmas Berprestasi Tingkat Kota Surabaya dan Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2018.

Baca juga ‘Prestasi Dan Penghargaan Homeschooling Pena’

Dengan capaian prestasi dan penghargaan yang telah berhasil diraih oleh Homeschooling Pena, Masyarakat tidak perlu kawatir dan bingung lagi dalam memilih lembaga Homeschooling di Surabaya. Homeschooling Pena terbukti sebagai yang terbaik.

Mana Yang Lebih Baik Antara Homeschooling Dan Sekolah Formal

Menjadi orang tua tentunya memiliki tantangan tersendiri untuk menentukan model pendidikan yang akan diterima anak kita. Tentunya kita tidak boleh sembrono atau asal memilih, kita harus cerdas dalam mendidik dan mengambil keputusan demi kelangsungan masa depan buah hati kita dimasa depan nantinya. Ketika anak kita masih balita mungkin semuanya terasa mudah dan menyenangkan saat merawatnya, namun hal tersebut akan berbeda bila dia sudah beranjak pada usia sekolah.

Saat anak memasuki usia tujuh tahun sebuah keputusan penting akan dibuat oleh orang tua berhubungan dengan pendidikan, akan menyekolahkan sang anak dimana, mana sekolah yang terbaik untuk tumbuh kembangnya, formal atau homeschooling. Semua itu akan menjadi pilihan yang harus bisa kita tetapkan agar nantinya anak kita mendapatkan pendidikan yang maksimal dan baik tentunya.

Yang akan menjadi bahan pertimbangan orang tua biasanya tak jauh dari beberapa pilihan ini, biaya, kualitas pendidikan, serta jarak sekolah bila menggunakan formal.

Sekolah formal menjadi pilihan favorit banyak orang tua untuk menyekolahkan anaknya, namun tak sedikit juga orang tua untuk menyekolahkan anaknya dengan menempuh model homeschooling.

Lantas apa persamaan dan berbedaan dari kedua model pembelajaran ini?

Persamaan

homeschooling surabaya

Mari kita mulai penjelasan dari persamaan yang dimiliki dua jenis model pendidikan ini.

Baik homeschooling dan sekolah formal, kedua model ini merupakan lembaga legal yang keberadaanya telah diakui oleh Negara. Seperti yang tertera pada UU no 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 27, dimana kedua model ini merupakan model pendidikan yang memiliki tujuan untuk mendidik anak dengan ilmu pengetahuan.

Standar kompetensi lulusan yang mencakup IPTEK, nasionalisme, kesehatan, olahraga, dan estetika menjadi persamaan dari kedua model ini. Ntah itu homeschooling maupun sekolah formal juga sama- sama mengikuti ujian nasional (UN) nantinya.

Perbedaan

Sedangkan untuk perbedaan dari kedua system pendidikan ini, terlihat jelas dari sistemnya itu sendiri yang ditempuh. Pada sekolah formal anda sudah pasti semua cukup mengetahui dan paham mengenai aturan mainnya, dimana setiap senin sampai dengan hari jumat semua murid wajib untuk datang ke sekolah. Kemudian murid- murid tersebut akan dibagi menjadi beberapa tingkatan kelas dengan materi yang sudah diatur oleh sekolah dan juga dinas pendidikan nasional. Semua murid diperlakukan sama tanpa ada satupun yang dibedakan dalam mendapatkan materi pengajaran.

Apabila sekolah formal memiliki kurikulum yang telah diatur oleh pihak sekolah, berbeda dengan homeschooling yang mana hal tersebut diatur oleh orang tua murid itu sendiri. Namun, orang tua tetap akan mendapatkan dari dinas pendidikan agar kualitasnya tetap setara. Jadwalnya pun berbeda dengan sekolah formal.

Tentunya kedua metode pembelajaran ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing- masing, kuncinya pada pola pembelajaran dengan materi- materi yang sesuai dengan bakal dan minat sang murid.