Kiat-kiat Menumbuhkan Tanggungjawab Pada Anak

Sebagai orangtua tentunya disibukkan dengan beberapa pekerjaan rumah. Saat itu pula pengawasan terhadap anak tidak bisa dilakukan dengan maksimal.  Pernahkah anda melihat  buah hati memecahkan perabotan rumah atau membuat isi rumah berantakan ? Situasi seperti ini merupakan hal yang wajar, jadi orangtua tidak seharusnya marah terhadap buah hati anda. Namun tidak bisa dipungkiri, kadang orangtua salah menyikapi hal tersebut sehingga mereka memberikan konsekuensi yang tidak sepadan dengan kesalahan anak.

Sebenarnya tujuan orangtua baik yaitu menjadikan anak sebagai pribadi yang disiplin, tetapi  tindakan yang mereka pilih salah, misalnya dengan melakukan perintah-perintah yang menggunakan nada tinggi. Tanpa disadari hal tersebut mampu menyakiti perasaan buah hati anda sehingga mereka enggan melakukan perintah dari orangtua. Dalam memberikan konsekuensi pada anak, seharusnya menggunakan prinsip yang sehat, tanpa harus menyakiti perasaan atau mengurangi harga diri anak.  Berikut ini beberapa langkah dalam memberikan konsekuensi terhadap anak:

  1. Terpusat Pada Permasalahan yang Dilakukan

Terpusat pada permasalahan yang dimaksud yaitu fokus terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anak tanpa mengkaitkan dengan hal-hal disekitar yang tidak bersangkutan. Misalnya ketika anak menjatuhkan gelas, maka konsekuensi yang tepat adalah membersihkan pecahan-pecahan gelas tersebut hingga bersih tanpa tersisa satu keping kaca gelas dengan jangka waktu yang sudah ditentukanoleh orang tua sehingga anak mampu menyepakati pekerjaan tersebut. Pentingnya kesepakatan waktu ini yaitu untuk mendidik anak agar menghargai waktu dan tepat dalam menyelesaikan tanggung jawabnya.

Orangtua sebaiknya menghindari konsekuensi yang tidak berkaitan dengan kesalahan anak, misalnya orangtua tidak mengizinkan anak bermain dengan teman sebayanya atau mereka tidak diberikan uang jajan ketika pergi kesekolah. Jangan sekali-kali melampiaskan kekesalan anda terhadap buah hati yang dapat memperpanjang masalah sehingga berhubungan dengan konsekuensi yang ditanggungnya.. Saat orangtua fokus pada masalah yang terjadi, maka mudah bagi anak untuk mengetahui letak kesalahan mereka

2 Masuk Akal dan Wajar

Perkembangan anak tentunya menjadi tanggungjawab besar bagi orangtua,  sehingga orangtua perlu melakukan pengawasan yang ketat.  Melihat perkembangan anak yang berbeda, maka orangtua harus memberikan konsekuensi yang sepadan dengan usia dan kemampuan anak. Anak yang berusia 7 tahun tentunya memiliki kemampuan yang berbeda dengan anak yang berusia 5 tahun, maka dari itu sebelum melakukan suatu pekerjaan harusnya orangtua memberikan contoh terlebih dahulu pada anak.

Selain memberikan contoh, hal lain yang dapat dilakukan yaitu memberikan bantuan pada anak. Maksud dari membantu disini yaitu ikut menyelesaikan konsekuensi yang sedang dikerjakan. Misalnya orangtua turut serta membersihkan pecahan gelas yang jatuh. Membantu anak dalam menyelesaikan pekerjaan ini dapat berpengaruh pada emosional anak sehingga tercipta kedekatan antara orangtua dengan anak.

3 Kesalahan adalah Pengalaman Belajar Anak

Konsekuensi bertujuan untuk  memberikan pengalaman belajar  dari kesalahan yang terjadi dimana dari hal yang tidak paham menjadi paham. Sebelum konsekuensi dilaksanakan, seharusnya orangtua memberikan pemahaman terhadap anak mengenai tindakan yang benar dan yang salah.

Jika orangtua sudah memberikan informasi, namun anak tetap melanggar maka konsekuensi bisa dilaksanakan. Konsekuensi merupakan sarana untuk mempertegas perilaku bahwa jika terjadi kesalahan maka harus bertanggungjawab pada perbuatan yang telah dilakukan sehingga harus diperbaiki.  Konsekuensi bukanlah sarana bagi orangtua untuk melampaskan kekesalan mereka. Orangtua tidak boleh mengungkit-ungkit kesalahan yang telah terjadi, justru hal yang harus dilakukan adalah memberikan pemahaman mengenai perilaku yang baik. Misalnya memberikan penjelasan yang benar dalam bertindak. Setelah anak menyelesaikan konsekuensinya, sebaiknya orangtua sudah tidak membicarakannya kembali.

4 Menjaga Harga Diri

Orangtua sebaiknya menghindari berperilaku kasar misalnya berkata menggunakan nada tinggi,membentak, bahkan memaki anak. Hal ini tidak boleh dilakukan didepan anak maupun didepan kalayak umum, karena dapat menyakiti perasaan anak sehingga bisa merusak harga dirinya. Apabila orangtua sudah menjalankan kesepakatan dan aturan dengan anak, maka perilaku mereka akan terbentuk dengan baik. Begitupun jika mereka membuat suatu kesalahan, maka mereka akan bertanggungjawab menanggung konsekuensi yang telah disepakati.

 Jika anda sudah memiliki aturan dan konsekuensi yang jelas keteraturan dan disiplin anak akan terbentuk dengan baik. Contoh kecilnya yaitu seperti dijalan raya, ketika lampu merah maka mereka akan berhenti mengikuti rambu-rambu lalu lintas. Konsekuensi yang ditanggung apabila mereka tetap berjalan yaitu tertabrak kendaraan. Jadi, pemberian konsekuensi dari orangtua haruslah jelas tanpa menurunkan harga diri anak dilingkungannya.

Sumber: Homeschooling Pena

Aspek Penting Yang Harus Di Tanamkan Pada Buah Hati

Sebagai orangtua, memenuhi kebutuhan buah hati merupakan hal yang sudah menjadi kewajiban. Selain itu orang tua adalah figur pertama yang di contohnya dalam melakukan segala hal dari mulai cara berbicara, memberinya pengetahuan sebelum mereka mengenal dunia luar, bahkan ada beberapa aspek yang perlu orang tua ketahui dalam mendidik buah hati.

Berikut adalah aspek yang harus di tanamkan pada buah hati:

1. Disiplin

Melalui disiplin buah hati diajarkan tentang bagaimana berperilaku dengan cara-cara yang sesuai dengan standar kelompok sosialnya. Maka jelaslah bahwa orang tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab terhadap pembentukan perilaku moral buah hatinya di rumah. Kesalahan atau ketidakketatan dalam penanaman kedisiplinan sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan  perilaku buah hati. Sedangkan penanaman disiplin yang tepat akan menghasilkan terbentuknya perilaku moral yang baik atau positif bagi buah hati kita.

2. Jujur

Ada 2 sikap jujur yang harus di terapkan pada buah hati, dalam perkataan yang berarti tidak boleh berbohong tentang perkataan atau perbuatan, misalnya; mengakui kesalahan baik disengaja maupun tidak, anak yang jujur berarti tidak takut menerima akibat perbuatannya; berkata jujur adalah menceritakan kejadian yang sebenarnya; berkata jujur harus dibarengi tindakan yang benar, misal anak mengatakan baju temannya jelek, rumah itu jelek. Tentu jujur di sini tidak tepat. Hendaknya buah hati kita diajarkan berkata hal yang sebenarnya dalam konteks yang sesuai.

Selanjutnya jujur dalam perbuatan yaitu jujur berbuat yang benar, misalnya; saling mengasihi, berbagi, dan tolong menolong; tidak melanggar peraturan; tidak mencontek; tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas, tidak bertindak curang dengan menyerobot antrian; tidak mengambil barang yang bukan miliknya, jujur dengan tidak melakukan perbuatan yang salah untuk mencapai tujuan, misalnya; menyuap.

Orang tua sangat berperan penting terhadap tumbuh kembang dan perilaku buah hati. Menanamkan sikap jujur harus dimulai sedini mungkin karena usia dini adalah usia emas yang sangat baik untuk menanamkan kepribadian. Pembelajaran dari pengalaman yang di dapat juga akan lebih cepat tersimpan dalam memori buah hati yang nantinya akan memengaruhi kepribadiannya hingga dewasa.

3. Tanggung jawab

“Learning by doing” adalah suatu metode pembelajaran yang mengajak buah hati belajar dengan cara melakukan. Kelebihan metode ini adalah buah hati diajarkan banyak hal dengan lebih melibatkan mereka untuk melakukan sesuatu sesuai dengan materi apa yang dipelajari. Sehingga tugas orang tua hanyalah mengamati dan membimbing. Ada kalanya membiarkan mereka melakukan kesalahan, supaya mereka bisa belajar dari kesalahan mereka sendiri. Agar mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri serta bertanggung jawab. Biarkan mereka menenteng tas sendiri, membuka pintu sendiri, dan mengerjakan tugas-tugas mereka sendiri.

Misalnya, mendapatkan tugas yang sulit dari guru. Sebagai orang tua, anda tidak boleh langsung mengajarinya, apalagi mengambil alih tugas anak untuk dikerjakan orang tua. Biarkan mereka merasakan berada di situasi yang sulit, dan tugas orang tua adalah membimbing, mengarahkan, serta menyemangati.

4. Menghormati orang lain

Empati merupakan salah satu faktor penting dalam membangun rasa toleran dan belas kasih. Anak yang memiliki empati, selalu berusaha memahami kebutuhan orang lain sehingga memiliki kepedulian untuk membantu orang lain yang memiliki masalah. Oleh karenanya akan sulit jika menghargai dan menghormati tanpa memiliki empati.

Untuk menanamkan empati pada anak dapat dilakukan dengan cara menjalin hubungan yang positif dan kepedulian kepada mereka. Sehingga ketika kita melihat si kecil berkata kasar atau mencela orang lain melalui kata-kata atau perilaku, maka orangtua bisa menjelaskan pada mereka bagaimana perasaan orang lain yang terluka karena kata-kata atau perilakunya. Orang tua juga mesti fokus pada perasaan, bukan tindakan.

Buah hati anda akan melihat bagaimana perilaku anda dalam kehidupan sehari-hari. Apapun yang anda lakukan, itu akan ditiru oleh buah hati anda dan apapun yang dilakukan anak itu merupakan cerminan dari diri anda maka jadilah contoh yang baik bagi anak. (adm_hspena)

Langkah-Langkah Memulai Pembelajaran Homeschooling

Masih banyak sekali pertanyaan yang muncul dari kalangan masyarakat yang hendak menginginkan melakukan metode pembelajaran homeschooling pada anaknya, rata- rata mereka yang menanyakan hal tersebut adalah orang yang pertama kali atau orang yang baru akan melakukan metode ini.

belajar di rumahSaat anda hendak memutuskan untuk menggunakan metode ini, berikut ini beberapa cara praktis yang patut anda simak agar anda tak kesulitan saat akan memulai homeschooling.

  1. Gunakan waktu sebanyak mungkin untuk mengamati anak anda saat belajar dan bermain.Perhatikan dengan seksama cara belajar dan bermain mereka, sehingga anda bisa menemukan apa yang menjadi bakat dan minat mereka. Anda bisa memikirkan kegiatan seperti apa yang bisa anda gunakan untuk mengembangkan bakatnya tersebut, untuk membantu menemukannya anda bisa sembari membicarakan tentang topic- topic yang menyinggung kegiatan tersebut.
  1. Beri kesempatan untuk anak anda menentukan keputusan dan membuat pilihan kegiatan yang ingin dilakukan.Dia akan menentukan pilihan mereka dan itu akan membuat dirinya senang saat belajar, sembari anda juga bisa mengembangkan potensi dalam dirinya. Setiap anak memiliki hal yang tak disenangi, pikirkan pula caranya agar anda bisa mengubah cara pikirnya sehingga anda bisa melakukan pendekatan padanya.
  1. Usahakan untuk melibatkan keluarga besar atau teman dekat dalam kegiatan belajar dirumah.Ini akan membuat dirinya tertarik pada kegiatan yang anda buat dan bersenang- senang bersama orang- orang yang berarti baginya. Selain hal itu, anda akan juga mendapatkan banyak dukungan dari orang- orang yang anda cintai untuk kegiatan belajar di rumah yang anda terapkan.
  1. Berilah sedikit hal atau kegiatan yang bertujuan untuk menekankan nilai- nilai keluarga pada anak anda.Anda bisa mengembangkan nilai kekeluargaan pada anak anda dengan mengajaknya melakukan berbagai macam aktifitas. Seperti membuat kue, membuat kartu, melukis, memetik bunga, atau mengajarkan untuk memberi sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan. Sehingga jiwa sosialnya juga bisa muncul pada diri sang anak.
  1. Apabila anda mengeluarkan anak anda dari sekolah, anda harus mempersiapkan terlebih dahulu keadaan homeschoolingnya sehingga adaptasi sang anak bisa cepat dan malah tidak mengganggu belajarnya.

Bila perlu mintalah bantuan kepada teman atau anggota keluarga anda untuk membantunya menjalani masa transisinya dari yang dulunya belajar di sekolah berubah ke belajar di rumah. Anda bisa merencanakan sebuah kegiatan untuk menarik kemauan anak anda dengan melakukan kegiatan yang tak mungkin bisa didapatkan di sekolahnya.

Tentunya peran orang tua sangat diperlukan dalam melakukan system homeschooling, karena sang orangtualah yang berperan dalam mendidik anaknya. Bila anda merasa diri anda tidak mampu untuk melakukan pengajaran langsung kepada anak anda, anda bisa meminta bantuan guru privat atau tenaga profesional untuk melakukannya. Tentunya dibawah pengawasan anda agar tak ada hal yang salah dalam metode pembelajarannya.

Mana Yang Lebih Baik Antara Homeschooling Dan Sekolah Formal

Menjadi orang tua tentunya memiliki tantangan tersendiri untuk menentukan model pendidikan yang akan diterima anak kita. Tentunya kita tidak boleh sembrono atau asal memilih, kita harus cerdas dalam mendidik dan mengambil keputusan demi kelangsungan masa depan buah hati kita dimasa depan nantinya. Ketika anak kita masih balita mungkin semuanya terasa mudah dan menyenangkan saat merawatnya, namun hal tersebut akan berbeda bila dia sudah beranjak pada usia sekolah.

Saat anak memasuki usia tujuh tahun sebuah keputusan penting akan dibuat oleh orang tua berhubungan dengan pendidikan, akan menyekolahkan sang anak dimana, mana sekolah yang terbaik untuk tumbuh kembangnya, formal atau homeschooling. Semua itu akan menjadi pilihan yang harus bisa kita tetapkan agar nantinya anak kita mendapatkan pendidikan yang maksimal dan baik tentunya.

Yang akan menjadi bahan pertimbangan orang tua biasanya tak jauh dari beberapa pilihan ini, biaya, kualitas pendidikan, serta jarak sekolah bila menggunakan formal.

Sekolah formal menjadi pilihan favorit banyak orang tua untuk menyekolahkan anaknya, namun tak sedikit juga orang tua untuk menyekolahkan anaknya dengan menempuh model homeschooling.

Lantas apa persamaan dan berbedaan dari kedua model pembelajaran ini?

Persamaan

homeschooling surabaya

Mari kita mulai penjelasan dari persamaan yang dimiliki dua jenis model pendidikan ini.

Baik homeschooling dan sekolah formal, kedua model ini merupakan lembaga legal yang keberadaanya telah diakui oleh Negara. Seperti yang tertera pada UU no 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 27, dimana kedua model ini merupakan model pendidikan yang memiliki tujuan untuk mendidik anak dengan ilmu pengetahuan.

Standar kompetensi lulusan yang mencakup IPTEK, nasionalisme, kesehatan, olahraga, dan estetika menjadi persamaan dari kedua model ini. Ntah itu homeschooling maupun sekolah formal juga sama- sama mengikuti ujian nasional (UN) nantinya.

Perbedaan

Sedangkan untuk perbedaan dari kedua system pendidikan ini, terlihat jelas dari sistemnya itu sendiri yang ditempuh. Pada sekolah formal anda sudah pasti semua cukup mengetahui dan paham mengenai aturan mainnya, dimana setiap senin sampai dengan hari jumat semua murid wajib untuk datang ke sekolah. Kemudian murid- murid tersebut akan dibagi menjadi beberapa tingkatan kelas dengan materi yang sudah diatur oleh sekolah dan juga dinas pendidikan nasional. Semua murid diperlakukan sama tanpa ada satupun yang dibedakan dalam mendapatkan materi pengajaran.

Apabila sekolah formal memiliki kurikulum yang telah diatur oleh pihak sekolah, berbeda dengan homeschooling yang mana hal tersebut diatur oleh orang tua murid itu sendiri. Namun, orang tua tetap akan mendapatkan dari dinas pendidikan agar kualitasnya tetap setara. Jadwalnya pun berbeda dengan sekolah formal.

Tentunya kedua metode pembelajaran ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing- masing, kuncinya pada pola pembelajaran dengan materi- materi yang sesuai dengan bakal dan minat sang murid.

Homeschooling – Apa itu Homeschooling?

A da cukup banyak kebingungan tentang apa yang dimaksud dengan homeschooling. Kebingungan ini diperburuk karena setiap negara memiliki definisi khusus tentang apa yang dimaksud dengan homeschooling, dan negara yang berbeda memiliki definisi yang berbeda. Belum lagi setiap institusi pendidikan pasti punya definisi sendiri tentang homeschooling, siapa yang memberikan pendidikan, berapa jumlah tutor dsb, pastinya definisinya jadi tambah rancu. Mari kita lihat apakah artikel ini dapat memberikan sedikit pencerahan pada kebingungan-kebingungan yang ada ini.

Karakteristik Fundamental

Meskipun ada banyak cara untuk homeschool, mari kita batasi diskusi kita ke situasi paling dasar, atau apa yang bisa disebut paradigma dari homeschooling. Dengan memahami paradigma homeschooling ini, kita dapat mengambil karakteristik kunci dari definisi homeschooling.

Pertama, orang tua yang homeschool telah membuat keputusan sadar untuk mengelola pendidikan anak mereka ke tingkat yang jauh lebih besar daripada sekedar ‘bersekolah’ pada umumnya. Pada intinya, orang tua yang menerapkan homeschooling telah memutuskan untuk mengendalikan pendidikan anak mereka dalam setiap detail. Mereka memutuskan materi apa yang akan dipelajari, buku apa yang akan digunakan, berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk belajar, dan banyak detail lainnya. Mereka tidak memberikan keputusan ini kepada orang lain, seperti kepala sekolah, guru pribadi, atau bahkan pejabat pemerintah.

K edua, seorang anak yang belajar di rumah melakukan pekerjaan sekolahnya di rumah. Ini tampaknya agak jelas, tetapi sekali lagi kita melihat karakteristik paling mendasar dari homeschooling. Seorang anak yang belajar di rumah tidak pergi ke lokasi lain untuk pendidikan mereka, bukan sekolah, bukan gereja, bahkan rumah orang lain. Sekalipun seorang anak yang belajar di rumah mungkin mengambil kelas khusus di tempat lain, pusat pendidikan anak tersebut tetaplah di rumah.

Ketiga, orang tua homeschooling bertanggung jawab atas materi pendidikan untuk anaknya. Walaupun pihak ketiga dapat disewa untuk menjelaskan topik tertentu, orang tua memegang tanggung jawab akhir dari materi yang diajarkan. Orang tua memastikan anak melakukan tugas, orang tua memastikan tugasnya dinilai, dan orang tua bertanggung jawab atas catatan progress pendidikan anak. Orangtua dapat menggunakan sumber luar untuk membantu mereka dengan tugas ini, tetapi tanggung jawab terakhir ada pada orang tua.

Siapa yang Mengajar

Seorang guru homeschool bisa jadi anggota keluarga; tidak harus orang tua. Seorang kakek-nenek, saudara, paman, atau sepupu, bisa juga menjadi guru untuk anak homeschool. Karena itu, biasanya guru utama anak yang belajar di rumah adalah orang tua atau kakek-nenek, karena alasan yang jelas (disiplin, tanggung jawab, dll.).

Sementara seorang anak dapat mengambil kelas yang diajarkan oleh seseorang yang dibayar, memiliki guru berbayar (tutor) sebagai guru utama di homeschool kadang-kadang bisa menjadi masalah. Beberapa negara mensyaratkan bahwa jika seseorang dibayar untuk homeschooling seorang anak, orang itu membutuhkan lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh negara. Jika Anda berpikir untuk mempekerjakan seorang tutor untuk mengajar anak Anda di rumah, Anda perlu bertanya kepada Departemen Pendidikan di negara Anda untuk menentukan persyaratan yang tepat.

Apa yang Harus Dilakukan Untuk Memulai Homeschool Anak Anda

Ada dua persyaratan yang perlu Anda penuhi untuk dapat homeschooling anak Anda. Pertama adalah persyaratan hukum negara tempat Anda tinggal. Ini kadang-kadang bisa membingungkan, jadi pastikan Anda meneliti persyaratan ini secara menyeluruh. Beberapa kabupaten juga akan memiliki persyaratan khusus untuk homeschooling, jadi Anda perlu memeriksa dengan dewan pendidikan lokal Anda juga. Bersikaplah gigih dengan pejabat pemerintah karena mereka mungkin berusaha mencegah Anda dari homeschooling.

Persyaratan kedua adalah menyusun sumber daya yang ingin Anda gunakan untuk upaya homeschooling anak Anda. Ini biasanya seperangkat buku dan koleksi perlengkapan sekolah normal. Buku-buku dapat berupa kurikulum yang disiapkan atau hanya satu set buku teks individu. Kedua hal ini dapat ditemukan secara online, dan banyak negara bagian memiliki konvensi untuk homeschooling di mana Anda dapat membeli buku juga. Anda harus memulai dari yang sederhana, dengan fokus Anda pada dasar-dasar membaca, menulis, dan berhitung. Anda dapat menambahkan subjek lain nanti, setelah Anda memulai; namun, jika Anda ingin memulai dengan subjek tambahan lainnya (seni, sejarah, sains, dan sebagainya), tentu Anda harus melakukannya.

Panggilan untuk bertindak

Banyak orang tua tidak puas dengan pendidikan yang dapat diperoleh anak mereka di sistem sekolah yang ada. Jika Anda adalah salah satu dari orang tua ini, saya akan sangat menyarankan Anda mempertimbangkan homeschooling sebagai alternatif dari mengirim anak Anda ke sekolah setiap pagi. Dari pengalaman pribadi, saya dapat mengatakan bahwa homeschooling adalah salah satu cara terbaik untuk mendidik anak Anda.

Perbedaan Homeschooling Dengan Sekolah Biasa

Seperti yang banyak kita ketahui, bahwa homeschooling sudah menjadi metode pendidikan alternatif bagi para keluarga sekarang ini. Mungkin juga andalah salah satu yang menggunakan homeschooling. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas apa itu homeschooling dan apa perbedaan homeschooling dengan sekolah formal, selain itu kita juga akan membandingkan mengenai biaya homeschooling dengan sekolah formal. Pastikan anda menyimak artikel ini hingga tuntas tanpa meninggalkan satu katapun.

Apa itu homeschooling

Bisa dikatakan ini merupakan metode belajar yang dilakukan dirumah, dengan bantuan guru privat atau dengan orang tua sendiri sebagai gurunya. Nah dari penjelasan diatas, menurut saya sendiri homeschooling itu adalah rangkuman dari penjelasan tadi. Tidak penting siapa yang akan menjadi guru atau pembimbing anak yang melakukan homeschooling, karena orang tua bisa memilih dan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan anaknya.

homeschoolingHomeschooling sendiri dalam bahasa Indonesia bisa dibilang sebagai sekolah yang dilakukan di rumah, bersekolah atau melakukan kegiatan belajar mengajar dirumah bukannya di sebuah gedung sekolahan. Itu bila menurut bahasa Indonesia, beda halnya dengan pendapat para pakar pendidikan. Mereka mengatakan bahwa kegiatan ini adalah istilah dari sekolah mandiri, sehingga tanggung jawab dalam proses dan hasil pendidikan anaknya secara penuh berada di tangan orang tua bukan pada guru atau lembaga formal sekolah.

Secara umum homeschooling adalah sebuah model pendidikan dimana rumah menjadi pusat dari kegiatan ini, secara sadar orang tua bertanggung jawab penuh atas pendidikan anaknya.

Persamaan homeschooling dengan sekolah formal:

  • Sekolah formal dan homeschooling sama- sama bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada anak.
  • Memiliki tujuan yang sama dimana untuk mencari kebaikan dan menggali potensi optimal yang dimiliki oleh anak.
  • Sama- sama memiliki fungsi sebagai pengantar anak- anak pada tujuan pendidikan, memiliki modal intelektual, mental, dan spiritual yang memadai untuk menghadapi masa depan dengan penuh harapan.

Nah, bila kita sudah mengerti sedikit mengenai persamaan dari kedua model pembelajaran ini. Berikut ini perbedaan dari kedua model pembelajaran ini.

  1. System pendidikan
    Sekolah formal menggunakan standar yang disesuaikan oleh lembaga sekolah dan juga departemen pendidikan nasional.
    Homeschooling lebih bertujuan kepada kebutuhan anak dan kondisi keluarga untuk mengembangkan potensinya.
  1. Fasilitas pembelajaran
    Sekolah formal memiliki fasilitas yang lengkap dan bisa dibilang memadai untuk tumbuh kembang anak, seperti perpustakaan, lab bahasa maupun sains, lapangan untuk berolahraga dan fasilitas pendukung lainnya.
    Berbeda dengan model homeschooling yang lebih prefer kepada fasilitas yang ada dirumah, semua tergantung dengan kelengkapan dari fasilitas rumah itu sendiri.
  1. Kurikulum
    Sekolah formal memiliki kurikulum yang ketat karena sudah menjadi rancangan dari lembaga sekolahan dan juga departemen pendidikan nasional. Beda halnya dengan homeschooling yang memiliki kurikulum yang fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan bakat dan minat anak itu sendiri.

Kelebihan dan Kekurangan Homeschooling

Homeschooling merupakan alternatif belajar selain disekolah, biasanya homeschooling dilakukan oleh orang tua yang ingin tanggung jawab anaknya bisa penuh ada ditangannya. Sehingga proses pendidikan anaknya bisa terus dipantau, dengan bantuan guru professional dan menggunakan system sekolah biasanya.

Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama dengan homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan sendiri. Selain melakukan sendiri, orang tua dapat mengundang guru, mendaftarkan anak dalam kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang, atau kegiatan lainnya. Untuk anda yang ingin mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan dengan menggunakan homeschooling.

Kelebihan

  1. Sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga dalam pengaplikasiannya.
  2. Lebih memberikan peluang untuk kemandirian anak, serta meningkatkan kreativitas individual yang tak bisa didapatkan di dalam sekolah pada umumnya.
  3. Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini tanpa harus mengikuti standar waktu yang biasanya ditetapkan di dalam sekolah umum.
  4. Lebih siap untuk menghadapi kehidupan nyata, karena proses pembelajaran berdasarkan kepada kegiatan disekitar yang dilakukan sehari- hari.
  5. Pertumbuhan anak bisa benar- benar diawasi sehingga terhindar dari pergaulan yang menyimpang, kemungkinan besar pergaulan bebas bisa dihindari sehingga drug, tawuran, pornografi, dan mencontek bisa diminimalisir.
  6. Pergaulan dengan orang tua yang berbeda umur akan mudah didapat oleh pengguna system homeschooling
  7. Biaya yang digunakan untuk pendidikan bisa disesuaikan dengan kondisi orang tua.

Kekurangan

  1. Butuh komitmen dan keterlibatan orang tua pada saat dilakukannya pembelajaran homeschooling.
  2. Sosialisasi seumur relative rendah, sehingga anak sedikit tidak terekspose. Komunikasi yang sedikit sulit dengan anak seumuran Karena jarangnya ada interaksi social.
  3. Kurang bisa untuk bekerja dengan tim, karena jarangnya interaksi social, dalam organisasi, ataupun dalam kepemimpinan agak sedikit kurang.
  4. Perlindungan orang tua yang berlebih membuat anak sukar untuk bisa menyelesaikan masalah yang kompleks atau masalah yang tak terprediksi di kehidupan nyata.

Memang dengan kelebihan dan kekurangan yang dipaparkan, semua jenis pembelajaran bertujuan untuk kebaikan sang anak.

Andalah sebagai orang tua yang bisa menentukan apa baiknya yang bisa didapatkan oleh anak anda dalam pembelajaran, ada baiknya anda memikirkan matang- matang sebelum menentukan untuk mengambil proses pembelajaran homeschooling. Pastikan anda menentukan yang terbaik untuknya dan dengan kondisi keluarga anda.

Semoga artikel diatas bisa membuat anda referensi dalam menentukan pendidikan seperti apa pada anak anda nantinya.

5 Cara Efektif Membuat Anak Gemar Membaca

Homeschooling Pena Surabaya, 10 Juli 2018

Memiliki kemampuan membaca adalah hal yang sangat bermanfaat bagi semua orang termasuk bagi anak-anak. Gemar membaca akan memberi banyak pengetahuan dan informasi bagi anak. Dengan membaca juga akan membawa anak berimajinasi lebih tinggi. Membaca juga akan memberikan peluang kepada anak untuk berkembang pola pikirnya. Tetapi tidak semua orang atau anak memiliki kegemaran membaca. Kenapa begitu? Memang butuh cara dan teknik bagi orang tua agar anak memiliki kegemaran membaca. Dengan menciptakan budaya membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan adalah Kunci sukses membuat anak memiliki kegemaran membaca.

Berikut teknik yang bisa Anda gunakan agar anak gemar dalam membaca :

1. Siapkan bahan bacaan yang pendek
Bila Anda menginginkan anak Anda senang membaca, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah membuat mereka agar tertarik dulu dengan buku. Caranya adalah dengan memberikan bahan bacaan buku yang memiliki cerita menarik dan cerita pendek, sebaiknya dihindari memberikan bahan bacaan yang panjang. Berusahalah memberikan buku yang memiliki konten gambar lebih banyak di awal. Hal ini bisa membina terus kemampuan anak, agar anak tertarik dengan buku sehingga tumbuh semangat membaca.

2. Ikut serta dalam kegiatan membaca anak
Teknik yang kedua adalah ikut serta dalam membaca. Kita harus terlibat, jangan sampai anak diminta untuk membaca tetapi Anda sendiri malah asik melakukan hal lain. Terlibat bersama anak saat mereka membaca. Kita harus bisa menjadi contoh bagi anak-anak. Ambil bahan bacaan yang bersifat umum. Dengan keterlibatan Kita ketika anak membaca maka anak akan merasa nyaman karena didampingi oleh orang tua.

3. Pelan-pelan
Dibutuhkan proses untuk mendapatkan semua perubahan yang diinginkan, termasuk dengan kebiasaan membaca. Kita tidak boleh memaksakan diri agar anak senang dan gemar membaca. Mulailah dengan materi ringan tapi menarik yang anak sukai. Bisa dengan komik atau buku cerita, sebelum Kita memberikan materi bahan bacaan yang agak berat.

4. Jangan memaksa
Jangan pernah memaksa anak untuk membaca. Kegiatan apapun tidak akan membuahkan hasil yang baik bila dilakukan dengan paksaan. Seperti halnya dalam membuat anak senang dan gemar membaca. Kita harus sabar dan tidak boleh memaksa anak agar membaca. Yang tpaling penting adalah membudayakan membaca secara rutin dan berkelanjutan. Bila ini sudah Kita lakukan dengan penuh komitmen, maka akan dengan sendirinya tumbuh keinginan anak untuk membaca.

5. Memberikan Penghargaan
Agar anak senang dan gemar membaca memang memerlukan sebuah proses panjang. Saat anak sudah mampu melaksanakan, memiliki budaya membaca, ada baiknya Kita menghargai usaha mereka. Memberi penghargaan yang pantas atas upaya keras anak. Dengan memberikan anak hanya sekedar ucapan hebat bahwa ia telah mampu menyelesaikan membaca sebuah buku atau sebuah benda yang disukainya.

Kemampuan membaca sangatlah penting dan bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan anak. Budaya membaca adalah sebuah keterampilan yang harus dilatih. Bila ini sudah dicapai maka, anak akan menjadi generasi yang cerdas dan kebanggaan Keluarga.

Baca juga ‘Bentakan Dapat Membunuh Sel Otak Anak’

Sumber : Admin HS Pena