Penyebab Mengapa Anak Suka Berbohong

Homeschooling Surabaya – Homeschooling Pena

Surabaya, 06 Februari 2020

Tidak ada orang tua yang ingin anaknya memiliki kebiasaan berbohong. Tetapi tahukah anda, bahwa seorang anak sudah bisa berbohong sejak berusia empat tahun? Pertanyaannya adalah mengapa anak berbohong?

Apakah karena mereka tidak mempunyai konsep moral yang baik, atau karena berbohong adalah satu-satunya pilihan untuk memperoleh apa yang mereka inginkan? Saat anak memasuki usia sekolah, biasanya berbohong dilakukan untuk mendapat apa yang mereka anggap berharga. Misalnya, untuk memperoleh benda yang diinginkan, mendapat penghargaan atau pujian.

Berbohong juga biasa dilakukan anak untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti menutupi rasa takut atau hukuman. Dan kebohongan semacam ini seringkali lolos dari perhatian orangtua.

Salah satu kebiasaan berbohong yang paling sering dilakukan anak adalah dengan berpura-pura sakit. Biasanya kebohongan ini kerap kali dijadikan jalan keluar oleh anak, untuk menghindari hukuman atau situasi yang tidak menyenangkan di sekolah.

Hal semacam ini adalah akibat dari ketidakpahaman anak tentang arti berbohong. Berikut alasan mengapa anak suka berbohong, dan kondisi ini wajib untuk dipahami oleh setiap orangtua:

  1. Takut Dihukum

Sebuah studi menemukan bahwa hukuman justru membuat anak tidak mau mengatakan kebenaran. Hal ini terjadi karena kekhawatiran anak ketika dia mengatakan hal yang sebenarnya, mereka justru akan dihukum. Ada pula anak yang semula jujur menjadi berlatih berbohong karena perlakuan orangtua yang menghukumnya saat ia jujur. Karena itulah seringkali anak berbohong karena ia takut kalau berkata jujur akan dimarahi atau mendapatkan hukuman.

Kebutuhan akan perhatian dan pujian kerap kali membuat anak mengarang cerita tentang dirinya, padahal hal tersebut tidak pernah terjadi. Misalnya, anak mengatakan kepada teman-temannya bahwa dirinya berhasil menjuarai suatu lomba, baru dibelikan mainan baru yang mahal, atau akan diajak jalan-jalan ke luar negeri.

  1. Keinginan Mendapatkan Pengakuan

Jika anak bergaul dengan teman-teman yang suka berbohong, ia pun akan bertingkah laku yang sama dengan teman-temannya. Sebab, hanya dengan menunjukkan perilaku yang sama anak merasa dapat diterima oleh kelompoknya.

  1. Tuntutan Orang Tua yang Terlalu Tinggi

Seringkali orang tua memberi tuntutan yang terlalu tinggi pada anak, sedangkan anak merasa tidak mampu untuk memenuhi tuntutan tersebut. Akibatnya anak pun berbohong untuk membahagiakan dan mendapatkan penerimaan dari orang tua.

  1. Meniru Orang Tua atau Tayangan Televisi

Anak akan meniru perilaku orang dewasa disekitarnya. Jika orang tua memberikan alasan dan mengatakan sesuatu yang bersifat bohong untuk menghindari suatu kegiatan di depan anaknya, maka berarti secara tidak sadar orang tua telah memberikan contoh yang buruk kepadanya. Ketika anak melihat orangtuanya berbohong atau mengetahui orang-orang yang berbohong dari televisi, anak akan menganggap bahwa berbohong itu boleh dilakukan.

  1. Menutupi Kekurangan Pada Dirinya

Anak yang merasa memiliki kekurangan tertentu biasanya akan berusaha menutupi kekurangan tersebut dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan berbicara bohong yang melebih-lebihkan dirinya, yang berkebalikan dengan kekurangan yang dimilikinya.

  1. Daya Imajinasi yang Sangat Tinggi

Kadang daya imajinasi yang sangat tinggi membuat anak tidak mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan. Ia pun kemudian mengatakan hal-hal yang sebenarnya hanya khayalan belaka. Misalnya, anak mengatakan bahwa dirinya bisa melihat hantu atau dapat melakukan berbagai pekerjaan.

  1. Untuk Mendapatkan Keinginannya

Anak mengetahui bahwa dia tidak akan dapat memperoleh apa yang diinginkannya jika bersikap jujur. Oleh karena itu, anak berbohong demi mendapatkan apa yang diinginkannya.

  1. Melindungi Teman

Keberadaan teman begitu penting buat anak. Umumnya anak-anak akan selalu berusaha untuk menyenangkan, membantu, atau melindungi temannya. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan berbohong.

Dengan mengetahui alasan-alasan tersebut, maka hendaknya orang tua dapat menciptakan komunikasi yang lebih kondusif, agar mendorong anak untuk belajar jujur. Karena ketika anak berkata jujur, maka permasalahan dapat diselesaikan dengan lebih mudah dan tepat sasaran. Dengan demikian kita dapat membentuk konsep moral anak menjadi lebih baik, dan berkembang menjadi pribadi yang positif dikemudian hari.

Semoga bermanfaat.

( sumber : pendidikan karakter )

Penyebab Mengapa Anak Suka Berbohong

Ajarkan Sikap Percaya Diri Pada Anak

 Ajarkan Sikap Percaya Diri Pada Anak – Kurangnya rasa percaya diri pada anak bisa menghambat prestasinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bayangkan saja pada saat buah hati Anda belajar di sekolah, ia tidak memahami akan apa yang sedang ia pelajari. Namun karena sifat pemalunya, ia menjadi enggan bertanya, dan pada akhirnya hasil atau nilainya pun menjadi kurang maksimal. Anak-anak bisa belajar banyak hal bila ia berani tampil di hadapan publik, misalnya menjadi pemimpin upacara, menyanyi di ajang pentas seni, dan kesempatan manggung lainnya. Namun karena rasa kurang percaya dirinya, ia menjadi enggan pentas di hadapan teman-temannya. Lalu bagaimana agar sifat ini tidak dipiara hingga ia menjadi dewasa? Tentu membutuhkan usaha dari orang tua untuk bisa mengatasi hal ini.

1. Tidak Menghakimi Anak Secara Terus Menerus

Kata-kata adalah doa. Bila Anda terlalu sering mengatakan di hadapan anak Anda bahwa ia adalah “anak pemalu/tidak percaya diri”, maka apa yang ada di pikirannya akan terekam dalam jangka waktu yang lama, bahkan bisa hingga kelak ia berusia dewasa. Setiap anak akan memiliki titik bosannya sendiri. Ia akan semakin sadar bahwa sifat itu bukanlah hal yang baik seiring dengan perkembangan usianya.

2. Memotivasi

Daripada Anda menghakimi anak, akan lebih baik bila Anda memotivasinya dengan menggunakan kata-kata positif. Misalnya dengan memberikan semangat, “Ayo, kamu bisa”, “Jangan takut berbuat salah”, “Semangat!” dan kata-kata atau kalimat positif yang membangun lainnya. Dengan memotivasi dengan kata-kata itu ia pasti akan semakin terpacu untuk bertumbuh, termasuk dalam mengatasi sifat pemalunya ini.

3. Luangkan Waktu Bersama Anak

Jangan hanya menyerahkan masa “pembentukan karakter anak” pada sekolah. Anda perlu cerdas dalam membagi waktu untuk anak. Orang tua cerdas dan bijak pasti paham akan pentingnya “family time”. Di saat itulah orang tua bisa mengajak anak bermain bersama, makan bersama, dan bercakap-cakap bersama, meski sekedar membiasakan anak untuk berani mengungkapkan pendapatnya. Bila anak terbiasa mengungkapkan pendapatnya kepada orang tua, maka ia pun akan semakin bertumbuh menjadi anak yang terbuka dan percaya diri dalam mengungkapkan pendapat kepada orang lain.

4. Memuji Setiap Perkembangan

Agar anak tidak merasa “minder” dan merasa bahwa ia memiliki sifat yang kurang baik, maka Anda perlu memuji setiap perkembangan anak. Anak-anak tidak bisa langsung tumbuh menjadi anak yang percaya diri, kecuali ia memang punya bakat alami memiliki sifat yang percaya diri. Sekecil apa pun perkembangan anak dalam mengembangkan sifat percaya dirinya, Anda perlu memujinya. Misalnya, dengan mengatakan, “Kamu hebat Nak, sekarang kamu sudah berani menemui tamu meskipun kamu belum mengenal sebelumnya.”

5. Memberikan Kesempatan Belajar Dari Kesalahan

Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah. Tanamkan hal ini di dalam diri buah hati Anda. Bila buah hati Anda termasuk anak yang pemalu karena takut berbuat kesalahan, Anda perlu menasihatinya bahwa tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah. Biarkan anak berlatih berbuat salah saat mengerjakan soal Matematika yang sulit, dan biarkan ia mengerjakannya secara mandiri. Bila ia membuat kesalahan saat mengerjakan soal, jangan sekali-kali memarahinya, namun bimbing dan ajarilah ia hingga ia bisa menyelesaikannya dengan baik. Ajak ia memahami bahwa ia bisa mengerjakan soal itu dengan benar bila ia mau lebih teliti dalam mengerjakan soal.

Kepedulian orang tua adalah hal paling penting untuk mengembangkan rasa percaya diri anak. Saat ia belum mampu melakukan sesuatu, jangan pernah mengucilkan atau menganggapnya remeh dan lemah. Kebiasaan ini hanya akan membuat anak tertekan dan semakin tidak percaya diri . Sifat pemalu yang dimiliki oleh seorang anak dapat membuat bakat dan potensi yang dia punya tidak tereksplorasi secara maksimal. Bagaimana mungkin orang lain bisa tahu bahwa buah hati Anda adalah anak yang hebat bila ia tidak pernah menunjukkan kehebatannya.

Semoga dengan tips di atas, buah hati Anda akan semakin tumbuh menjadi anak yang percaya diri, sehingga kelak dengan bermodalkan kepercayaan dirinya ia bisa tumbuh menjadi anak yang berprestasi.

 

Sumber :  Kak Zepe

 

Cara Menjaga Semangat Anak untuk Belajar di Sekolah

Homeschooling Surabaya, Homeschooling Pena

Surabaya, 28 Januari 2020

Mengapa memotivasi anak untuk tetap semangat belajar sangat penting? Sebab dengan memotivasi anak, ia akan terpacu untuk meraih dan menggapai prestasi dalam hidupnya. Anak-anak memiliki kesulitan yang cukup besar dalam mendapatkan inspirasi jika tidak ada dorongan atau motivasi dari orang tertentu yang dapat mereka percayai atau merasa dekat dengan mereka. Bagaiman cara memotivasi anak agar mereka gemar belajar, terutama belajar di sekolah?

  • Mengenal Kepribadian Anak dan Pemasalahan Anak

Pribadi anak ada beraneka macam. Kita perlu mengenal pribadi mereka sebelum melakukan penanganan. Agar penangangan yang kita berikan sesuai dengan kebutuhan anak. Ada banyak permasalahan umum yang membuat anak malas belajar, misalnya terlalu banyak main game, materi pelajaran yang terlalu berat, ada permasalahan di dalam keluarga, pola asuh yang salah dari orang tua, dan berbagai permasalahan lainnya.

  • Memberikan Pengertian, “Mengapa Semua Orang Perlu Bersekolah?”

Ajarkan kepada anak akan pentingnya belajar di sekolah, dan tentu saja dengan gaya bahasa anak-anak. Misalnya dengan mengatakan seperti ini, “Dengan belajar di sekolah adik tidak hanya akan mendapatkan banyak ilmu, namun akan memiliki banyak teman. Dengan banyak teman, adik akan bisa bermain bersama, bercanda bersama, berbagi cerita bersama. Di sekolah, kalau belajar juga akan ditemani bapak ibu guru yang pintar-pintar. Ada yang pintar gambar, musik, dongeng, dan lainnya. Nanti adik bisa belajar banyak hal.” Dengan memberikan pengertian tadi, diharapkan anak-anak akan memahami arti belajar di sekolah, dan bisa membuat mereka paham bahwa bersekolah adalah kegiatan yang menyenangkan.

  • Pentingya Bermain Sambil Belajar, dan Belajar Dengan Bermain.
    Anak-anak tidak betah mendengarkan metode ceramah dalam waktu yang lama. Anak-anak mampu berkonsentrasi dengan baik dalam jangka waktu 10 sampai 15 menit. Setelah itu konsentrasi mereka akan berkurang, dan akan lebih suka sibuk sendiri, misalnya dengan ngobrol dengan temannya, mengganggu temannya, bergerak tidak jelas, dan perilaku lainnya. Setelah kira-kira 15 menit berlangsung ajaklah anak untuk lebih aktif, misalnya dengan meminta mereka menggambar, menulis, bertanya, menceritakan sesuatu, dan aktivitas lainnya. Penggunaan alat peraga yang menarik juga sangat disarankan agar anak bisa lebih fokus memperhatikan pelajaran yang kita sampaikan.
  • Jalin Komunikasi tiga pihak
    Komunikasi 3 pihak yang saya maksud di sini adalah komunikasi antara orang tua, guru, dan anak (siswa). Guru yang baik akan selalu memahami apa yang terjadi di dalam kelas. Sebelum pulang seharusnya seorang guru menanyakan apa keluhan-keluhan anak dan apa permasalahan yang mereka hadapi selama anak berada di dalam kelas. Bila ada permasalahan yang perlu diselesaikan atau ada keluhan-keluhan, guru yang baik akan mencari solusi yang terbaik. Oleh karena itu, orang tua perlu menanyakan kepada guru (khususnya guru kelas) tentang apa yang terjadi di dalam kelas atau selama anak belajar di sekolah. Sehingga bila memang ada permasalahan yang harus diselesaikan terutama yang membutuhkan bantuan orang tua, akan segera di musyawarahkan secara bersama untuk ditemukan solusinya. Komunikasi yang baik akan membantu menyelesaikan persoalan-persoalan kecil yang dihadapi anak. Bila persoalan-persoalan kecil itu cepat terselesaikan, maka anak akan semakin merasa nyaman berada di sekolah untuk belajar. Peran guru bagi orang tua memang sangat penting, karena guru biasanya memiliki laporan perkembangan anak atau minimal mengamati perkembangan anak selama ada di sekolah. Sehingga orang tua pun bisa belajar dari guru, agar lebih memahami anak dari segi kemampuan akademis, psikologis, dan lainnya.

Sumber : Kak Zepe

Cara Menjaga Semangat Anak untuk Belajar di Sekolah

Penyebab Utama Anak Berperilaku Kasar

Homeschooling Surabaya – Homeschooling Pena

Surabaya, 23 Januari 2020

Kekasaran adalah ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak semestinya dan tidak menyenangkan bagi orang lain. Bersikap kasar adalah suatu tindakan yang tidak pantas, memalukan, dan menjengkelkan. Kita perlu belajar mengatasi hal ini, karena semakin hari semakin banyak contoh bagaimana seseorang bersikap dan bertindak kasar dalam merespon sesuatu.

Disinilah peran orang tua untuk mengarahkan perilaku anak agar agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua harus bisa memberikan kendali terhadap ekspresi emosi anak, dan menuntunnya ke arah yang positif dan bermanfaat.

Dua hal berikut yang menjadi alasan mengapa anak bertindak kasar:

  1. Ketidaktahuan

Ketidaktahuan dapat menyebabkan seorang anak bertindak kasar, karena mereka tidak tahu bagaimana cara merespon suatu situasi dengan baik. Emosi negatif cepat sekali menguasai hati dan pikirannya, sehingga respon kasar dalam bentuk perilaku dan ucapan bergerak cepat untuk dimunculkan. Ketidaktahuan disini bisa juga dapat diartikan kurangnya pemahaman dalam berperilaku baik

  1. Bersikap Egois

Kita hidup di dunia yang mencintai “diri sendiri”. Budaya di sekeliling kita mengajarkan kita untuk berfokus pada penampilan, perasaan, dan keinginan pribadi sebagai prioritas utamanya. Tujuannya adalah mencapai kebahagiaan setinggi mungkin, namun pola ini sangat berbahaya dalam hubungan berelasi satu sama lainnya.

Sayangnya pemahaman ini sudah tertanam dalam diri manusia sejak dia lahir. Anda bisa melihat bagaimana seorang anak berperilaku egois dalam kepolosannya, tetapi pada orang yang dewasa sikap egois sering muncul sebagai sikap yang menyakiti.

Mengapa kita memiliki standar yang begitu rendah untuk diri sendiri, tetapi pengharapan yang tinggi terhadap orang lain? Dan jawaban untuk hal ini, bagaikan pil pahit yang harus ditelan. Karena kita mementingkan diri sendiri. Lalu bagaimana cara mengatasi anak yang bersikap kasar?

Kedua hal tersebut bukanlah sesuatu yang baik. Seorang anak lahir tanpa mengetahui etika yang baik, mereka perlu belajar dan berlatih untuk bersikap baik secara terus menerus.

Seperti kata bijak berikut:

”Dalam ilmu bertanam, jika anda ingin mengubah buahnya, modifikasi harus dimulai dari akarnya. Begitu juga dalam diri seseorang. Untuk bisa mengubah apa yang tampak dari luar, yaitu perilaku dan tindakan kita. Pertama-tama kita harus mengubah apa yang ada di dalam diri kita. Sesuatu yang tidak tampak, yaitu pola pikir dan cara pandang kita” – T. Harv Eker

Jika kita paham akar penyebabnya, maka atasi hal tersebut dari akarnya.

  1. Atasi Ketidaktahuannya

Pada dasarnya seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa tidak ada orang yang senang atau berada dekat dengan orang yang kasar, termasuk orang yang terbiasa bersikap kasar. Oleh karena itu seseorang perlu tahu dan memegang 3 prinsip dalam berhubungan dengan sesamanya. Berikut ini prinsipnya:

  • Perlakukan sesama anda sebagai mana anda ingin diperlakukan
  • Belajar dan upayakan mau mengerti, bertenggang rasa kepada orang lain, terutama kepada keluarga.
  • Belajar berkomitmen. Untuk bisa mengkontrol cara berperilaku dan berbicara, cobalah evaluasi dalam lingkungan keluarga. Karena jika anda mulai dari luar keluarga, terkadang orang lain tidak bisa menerima perilaku tersebut dan memancing keributan.
  1. Disiplin Mengatasi Egois Yang Berlebihan

Egois adalah perasaan di dalam hati, sama seperti perasaan benci, cinta, marah dan takut. Egois muncul dalam bentuk perilaku yang mementingkan diri sendiri, sedangkan cinta muncul dengan perilaku perhatian dan memberi. Begitu juga dengan takut, akan muncul dalam bentuk perilaku menghindar atau menutup diri. Pada dasarnya perasaan di dalam hati dapat di perintah. Benar, anda tidak salah baca. Perasaan dapat diperintah. Pernahkah anda marah kepada seseorang lalu bertemu di suatu tempat, dan kemudian rekan anda mengajaknya berbicara. Karena anda merasa “tidak enak” kalau tidak merespon baik, maka seketika ada perintah dalam diri anda yang berlangsung sehingga anda ikut merespon baik dalam percakapan tersebut.Egois pun juga dapat diperintah, dengan belajar memberi dan mau mengalah serta sabar. Pada awalnya pasti tidak enak dan tidak biasa, tetapi jika diniatkan dengan baik pasti bisa. Ini tergantung dari disiplin dan niat perubahan. Misalnya, dalam 1 minggu ajarkan anak untuk sengaja memberi kue kepada anggota keluarga atau teman di sekolahnya.

Lalu tingkatkan hal ini secara konsisten, pasti akan membawa perubahan dalam hidupnya. Pemberian bukan hanya barang, tetapi bisa juga waktu dan tenaga. Kebiasaan baik yang dibiasakan dalam hidup anak anda, akan membentuk karakter baik dalam hidupnya.

Semoga bermanfaat.

Sumber : Pendidikan Karakter

Penyebab Utama Anak Berperilaku Kasar

Menumbuhkan tanggungjawab pada anak itu penting

Menumbuhkan tanggungjawab pada anak-homeschooling pena

Menumbuhkan tanggungjawab pada anak adalah hal penting yang harus diketahui dalam mendildik anak, Sebagai orangtua tentunya disibukkan dengan beberapa pekerjaan rumah. Saat itu pula pengawasan terhadap anak tidak bisa dilakukan dengan maksimal.  Pernahkah anda melihat  buah hati memecahkan perabotan rumah atau membuat isi rumah berantakan ? Situasi seperti ini merupakan hal yang wajar, jadi orangtua tidak seharusnya marah terhadap buah hati anda. Namun tidak bisa dipungkiri, kadang orangtua salah menyikapi hal tersebut sehingga mereka memberikan konsekuensi yang tidak sepadan dengan kesalahan anak.

Sebenarnya tujuan orangtua baik yaitu menjadikan anak sebagai pribadi yang disiplin, tetapi  tindakan yang mereka pilih salah, misalnya dengan melakukan perintah-perintah yang menggunakan nada tinggi. Tanpa disadari hal tersebut mampu menyakiti perasaan buah hati anda sehingga mereka enggan melakukan perintah dari orangtua. Dalam memberikan konsekuensi pada anak, seharusnya menggunakan prinsip yang sehat, tanpa harus menyakiti perasaan atau mengurangi harga diri anak.  Berikut ini beberapa langkah dalam memberikan konsekuensi terhadap anak:

  1. Terpusat Pada Permasalahan yang Dilakukan

Terpusat pada permasalahan yang dimaksud yaitu fokus terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anak tanpa mengkaitkan dengan hal-hal disekitar yang tidak bersangkutan. Misalnya ketika anak menjatuhkan gelas, maka konsekuensi yang tepat adalah membersihkan pecahan-pecahan gelas tersebut hingga bersih tanpa tersisa satu keping kaca gelas dengan jangka waktu yang sudah ditentukanoleh orang tua sehingga anak mampu menyepakati pekerjaan tersebut. Pentingnya kesepakatan waktu ini yaitu untuk mendidik anak agar menghargai waktu dan tepat dalam menyelesaikan tanggung jawabnya.

Orangtua sebaiknya menghindari konsekuensi yang tidak berkaitan dengan kesalahan anak, misalnya orangtua tidak mengizinkan anak bermain dengan teman sebayanya atau mereka tidak diberikan uang jajan ketika pergi kesekolah. Jangan sekali-kali melampiaskan kekesalan anda terhadap buah hati yang dapat memperpanjang masalah sehingga berhubungan dengan konsekuensi yang ditanggungnya.. Saat orangtua fokus pada masalah yang terjadi, maka mudah bagi anak untuk mengetahui letak kesalahan mereka

2 Masuk Akal dan Wajar

Perkembangan anak tentunya menjadi tanggungjawab besar bagi orangtua,  sehingga orangtua perlu melakukan pengawasan yang ketat.  Melihat perkembangan anak yang berbeda, maka orangtua harus memberikan konsekuensi yang sepadan dengan usia dan kemampuan anak. Anak yang berusia 7 tahun tentunya memiliki kemampuan yang berbeda dengan anak yang berusia 5 tahun, maka dari itu sebelum melakukan suatu pekerjaan harusnya orangtua memberikan contoh terlebih dahulu pada anak.

Selain memberikan contoh, hal lain yang dapat dilakukan dalam menumbuhkan tanggungjawab yaitu memberikan bantuan pada anak. Maksud dari membantu disini yaitu ikut menyelesaikan konsekuensi yang sedang dikerjakan. Misalnya orangtua turut serta membersihkan pecahan gelas yang jatuh. Membantu anak dalam menyelesaikan pekerjaan ini dapat berpengaruh pada emosional anak sehingga tercipta kedekatan antara orangtua dengan anak.

Baca juga Aspek Penting Yang Harus Di Tanamkan Pada Buah Hati

3 Kesalahan adalah Pengalaman Belajar Anak

Konsekuensi bertujuan untuk  memberikan pengalaman belajar  dari kesalahan yang terjadi dimana dari hal yang tidak paham menjadi paham. Sebelum konsekuensi dilaksanakan, seharusnya orangtua memberikan pemahaman terhadap anak mengenai tindakan yang benar dan yang salah.

Jika orangtua sudah memberikan informasi, namun anak tetap melanggar maka konsekuensi bisa dilaksanakan. Konsekuensi merupakan sarana untuk mempertegas perilaku bahwa jika terjadi kesalahan maka harus bertanggungjawab pada perbuatan yang telah dilakukan sehingga harus diperbaiki.  Konsekuensi bukanlah sarana bagi orangtua untuk melampaskan kekesalan mereka. Orangtua tidak boleh mengungkit-ungkit kesalahan yang telah terjadi, justru hal yang harus dilakukan adalah memberikan pemahaman mengenai perilaku yang baik. Misalnya memberikan penjelasan yang benar dalam bertindak. Setelah anak menyelesaikan konsekuensinya, sebaiknya orangtua sudah tidak membicarakannya kembali.

4 Menjaga Harga Diri

Orangtua sebaiknya menghindari berperilaku kasar misalnya berkata menggunakan nada tinggi,membentak, bahkan memaki anak. Hal ini tidak boleh dilakukan didepan anak maupun didepan kalayak umum, karena dapat menyakiti perasaan anak sehingga bisa merusak harga dirinya. Apabila orangtua sudah menjalankan kesepakatan dan aturan dengan anak, maka perilaku mereka akan terbentuk dengan baik. Begitupun jika mereka membuat suatu kesalahan, maka mereka akan bertanggungjawab menanggung konsekuensi yang telah disepakati.

 Jika anda sudah memiliki aturan dan konsekuensi yang jelas keteraturan dan disiplin anak akan terbentuk dengan baik dan usana anda dalam menumbuhkan tanggungjawab bisa dikatakan berhasil. Contoh kecilnya yaitu seperti dijalan raya, ketika lampu merah maka mereka akan berhenti mengikuti rambu-rambu lalu lintas. Konsekuensi yang ditanggung apabila mereka tetap berjalan yaitu tertabrak kendaraan. Jadi, pemberian konsekuensi dari orangtua haruslah jelas tanpa menurunkan harga diri anak dilingkungannya.

Sumber: Homeschooling Pena

Aspek Penting Buat Anak Yang Harus Di Tanamkan

Aspek Penting Buat Anak-Homeschooling Pena

Aspek penting buat anak harus diketahui orangtua, memenuhi kebutuhan buah hati merupakan hal yang sudah menjadi kewajiban. Selain itu orang tua adalah figur pertama yang di contohnya dalam melakukan segala hal dari mulai cara berbicara, memberinya pengetahuan sebelum mereka mengenal dunia luar, bahkan ada beberapa aspek yang perlu orang tua ketahui dalam mendidik buah hati.

Berikut adalah aspek yang harus di tanamkan pada buah hati:

1. Disiplin

Melalui disiplin buah hati diajarkan tentang bagaimana berperilaku dengan cara-cara yang sesuai dengan standar kelompok sosialnya. Maka jelaslah bahwa orang tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab terhadap pembentukan perilaku moral buah hatinya di rumah. Kesalahan atau ketidakketatan dalam penanaman kedisiplinan sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan  perilaku buah hati. Sedangkan penanaman disiplin yang tepat akan menghasilkan terbentuknya perilaku moral yang baik atau positif bagi buah hati kita.

2. Jujur

Ada 2 sikap jujur yang harus di terapkan pada buah hati, dalam perkataan yang berarti tidak boleh berbohong tentang perkataan atau perbuatan, misalnya; mengakui kesalahan baik disengaja maupun tidak, anak yang jujur berarti tidak takut menerima akibat perbuatannya; berkata jujur adalah menceritakan kejadian yang sebenarnya; berkata jujur harus dibarengi tindakan yang benar, misal anak mengatakan baju temannya jelek, rumah itu jelek. Tentu jujur di sini tidak tepat. Hendaknya buah hati kita diajarkan berkata hal yang sebenarnya dalam konteks yang sesuai.

Selanjutnya jujur dalam perbuatan yaitu jujur berbuat yang benar, misalnya; saling mengasihi, berbagi, dan tolong menolong; tidak melanggar peraturan; tidak mencontek; tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas, tidak bertindak curang dengan menyerobot antrian; tidak mengambil barang yang bukan miliknya, jujur dengan tidak melakukan perbuatan yang salah untuk mencapai tujuan, misalnya; menyuap.

Orang tua sangat berperan penting terhadap tumbuh kembang dan perilaku buah hati. Menanamkan sikap jujur harus dimulai sedini mungkin karena usia dini adalah usia emas yang sangat baik untuk menanamkan kepribadian. Pembelajaran dari pengalaman yang di dapat juga akan lebih cepat tersimpan dalam memori buah hati yang nantinya akan memengaruhi kepribadiannya hingga dewasa.

Baca juga Problem Yang Menyebabkan Nilai Anak Hancur

3. Tanggung jawab

“Learning by doing” adalah suatu metode pembelajaran yang mengajak buah hati belajar dengan cara melakukan. Kelebihan metode ini adalah buah hati diajarkan banyak hal dengan lebih melibatkan mereka untuk melakukan sesuatu sesuai dengan materi apa yang dipelajari. Sehingga tugas orang tua hanyalah mengamati dan membimbing. Ada kalanya membiarkan mereka melakukan kesalahan, supaya mereka bisa belajar dari kesalahan mereka sendiri. Agar mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri serta bertanggung jawab. Biarkan mereka menenteng tas sendiri, membuka pintu sendiri, dan mengerjakan tugas-tugas mereka sendiri. Hal ini juga merupakan aspek penting buat anak yang harus diperhatikan.

Misalnya, mendapatkan tugas yang sulit dari guru. Sebagai orang tua, anda tidak boleh langsung mengajarinya, apalagi mengambil alih tugas anak untuk dikerjakan orang tua. Biarkan mereka merasakan berada di situasi yang sulit, dan tugas orang tua adalah membimbing, mengarahkan, serta menyemangati.

4. Menghormati orang lain

Empati merupakan salah satu faktor penting dalam membangun rasa toleran dan belas kasih. Anak yang memiliki empati, selalu berusaha memahami kebutuhan orang lain sehingga memiliki kepedulian untuk membantu orang lain yang memiliki masalah. Oleh karenanya akan sulit jika menghargai dan menghormati tanpa memiliki empati.

Untuk menanamkan empati pada anak dapat dilakukan dengan cara menjalin hubungan yang positif dan kepedulian kepada mereka. Sehingga ketika kita melihat si kecil berkata kasar atau mencela orang lain melalui kata-kata atau perilaku, maka orangtua bisa menjelaskan pada mereka bagaimana perasaan orang lain yang terluka karena kata-kata atau perilakunya. Orang tua juga mesti fokus pada perasaan, bukan tindakan.

Buah hati anda akan melihat bagaimana perilaku anda dalam kehidupan sehari-hari. Apapun yang anda lakukan, itu akan ditiru oleh buah hati anda dan apapun yang dilakukan anak itu merupakan cerminan dari diri anda maka jadilah contoh yang baik bagi anak. (adm_hspena)

Strategi Memulai Homeschooling

Strategi memulai pembelajaran homeschooling merupakan pertanyaan yang sering muncul dari kalangan masyarakat yang hendak menginginkan melakukan metode pembelajaran homeschooling pada anaknya. Rata- rata mereka yang menanyakan hal tersebut adalah orang yang pertama kali atau orang yang baru akan melakukan metode ini.

belajar di rumahSaat anda hendak memutuskan untuk menggunakan metode ini, berikut ini beberapa cara praktis yang patut anda simak agar anda tak kesulitan saat akan memulai homeschooling.

  1. Gunakan waktu sebanyak mungkin untuk mengamati anak anda saat belajar dan bermain.Perhatikan dengan seksama cara belajar dan bermain mereka, sehingga anda bisa menemukan apa yang menjadi bakat dan minat mereka. Anda bisa memikirkan kegiatan seperti apa yang bisa anda gunakan untuk mengembangkan bakatnya tersebut, untuk membantu menemukannya anda bisa sembari membicarakan tentang topic- topic yang menyinggung kegiatan tersebut.
  1. Beri kesempatan untuk anak anda menentukan keputusan dan membuat pilihan kegiatan yang ingin dilakukan.Dia akan menentukan pilihan mereka dan itu akan membuat dirinya senang saat belajar, sembari anda juga bisa mengembangkan potensi dalam dirinya. Setiap anak memiliki hal yang tak disenangi, pikirkan pula caranya agar anda bisa mengubah cara pikirnya sehingga anda bisa melakukan pendekatan padanya.
  1. Usahakan untuk melibatkan keluarga besar atau teman dekat dalam kegiatan belajar dirumah.Ini akan membuat dirinya tertarik pada kegiatan yang anda buat dan bersenang- senang bersama orang- orang yang berarti baginya. Selain hal itu, anda akan juga mendapatkan banyak dukungan dari orang- orang yang anda cintai untuk kegiatan belajar di rumah yang anda terapkan.
  1. Berilah sedikit hal atau kegiatan yang bertujuan untuk menekankan nilai- nilai keluarga pada anak anda.Anda bisa mengembangkan nilai kekeluargaan pada anak anda dengan mengajaknya melakukan berbagai macam aktifitas. Seperti membuat kue, membuat kartu, melukis, memetik bunga, atau mengajarkan untuk memberi sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan. Sehingga jiwa sosialnya juga bisa muncul pada diri sang anak.
  1. Apabila anda mengeluarkan anak anda dari sekolah, anda harus mempersiapkan terlebih dahulu keadaan homeschoolingnya sehingga adaptasi sang anak bisa cepat dan malah tidak mengganggu belajarnya.

Baca juga Homeschooling Pena Dapat Penghargaan Wali Kota Surabaya

Bila perlu mintalah bantuan kepada teman atau anggota keluarga anda untuk membantunya menjalani masa transisinya dari yang dulunya belajar di sekolah berubah ke belajar di rumah. Anda bisa merencanakan sebuah kegiatan untuk menarik kemauan anak anda dengan melakukan kegiatan yang tak mungkin bisa didapatkan di sekolahnya. Ini juga merupakan strategi memulai pembelajaran homeschooling yang bisa dicoba.

Tentunya peran orang tua sangat diperlukan dalam melakukan sistem homeschooling, karena sang orangtualah yang berperan dalam mendidik anaknya. Bila anda merasa diri anda tidak mampu untuk melakukan pengajaran langsung kepada anak anda, anda bisa meminta bantuan guru privat atau tenaga profesional untuk melakukannya. Tentunya dibawah pengawasan anda agar tak ada hal yang salah dalam metode pembelajarannya. (Adm-HS. Pena)

 

Mana Yang Lebih Baik Antara Homeschooling Dan Sekolah Formal

Menjadi orang tua tentunya memiliki tantangan tersendiri untuk menentukan model pendidikan yang akan diterima anak kita. Tentunya kita tidak boleh sembrono atau asal memilih, kita harus cerdas dalam mendidik dan mengambil keputusan demi kelangsungan masa depan buah hati kita dimasa depan nantinya. Ketika anak kita masih balita mungkin semuanya terasa mudah dan menyenangkan saat merawatnya, namun hal tersebut akan berbeda bila dia sudah beranjak pada usia sekolah.

Saat anak memasuki usia tujuh tahun sebuah keputusan penting akan dibuat oleh orang tua berhubungan dengan pendidikan, akan menyekolahkan sang anak dimana, mana sekolah yang terbaik untuk tumbuh kembangnya, formal atau homeschooling. Semua itu akan menjadi pilihan yang harus bisa kita tetapkan agar nantinya anak kita mendapatkan pendidikan yang maksimal dan baik tentunya.

Yang akan menjadi bahan pertimbangan orang tua biasanya tak jauh dari beberapa pilihan ini, biaya, kualitas pendidikan, serta jarak sekolah bila menggunakan formal.

Sekolah formal menjadi pilihan favorit banyak orang tua untuk menyekolahkan anaknya, namun tak sedikit juga orang tua untuk menyekolahkan anaknya dengan menempuh model homeschooling.

Lantas apa persamaan dan berbedaan dari kedua model pembelajaran ini?

Persamaan

homeschooling surabaya

Mari kita mulai penjelasan dari persamaan yang dimiliki dua jenis model pendidikan ini.

Baik homeschooling dan sekolah formal, kedua model ini merupakan lembaga legal yang keberadaanya telah diakui oleh Negara. Seperti yang tertera pada UU no 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 27, dimana kedua model ini merupakan model pendidikan yang memiliki tujuan untuk mendidik anak dengan ilmu pengetahuan.

Standar kompetensi lulusan yang mencakup IPTEK, nasionalisme, kesehatan, olahraga, dan estetika menjadi persamaan dari kedua model ini. Ntah itu homeschooling maupun sekolah formal juga sama- sama mengikuti ujian nasional (UN) nantinya.

Perbedaan

Sedangkan untuk perbedaan dari kedua system pendidikan ini, terlihat jelas dari sistemnya itu sendiri yang ditempuh. Pada sekolah formal anda sudah pasti semua cukup mengetahui dan paham mengenai aturan mainnya, dimana setiap senin sampai dengan hari jumat semua murid wajib untuk datang ke sekolah. Kemudian murid- murid tersebut akan dibagi menjadi beberapa tingkatan kelas dengan materi yang sudah diatur oleh sekolah dan juga dinas pendidikan nasional. Semua murid diperlakukan sama tanpa ada satupun yang dibedakan dalam mendapatkan materi pengajaran.

Apabila sekolah formal memiliki kurikulum yang telah diatur oleh pihak sekolah, berbeda dengan homeschooling yang mana hal tersebut diatur oleh orang tua murid itu sendiri. Namun, orang tua tetap akan mendapatkan dari dinas pendidikan agar kualitasnya tetap setara. Jadwalnya pun berbeda dengan sekolah formal.

Tentunya kedua metode pembelajaran ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing- masing, kuncinya pada pola pembelajaran dengan materi- materi yang sesuai dengan bakal dan minat sang murid.

Apa itu Homeschooling?

Apa itu Homeschooling? Ada cukup banyak kebingungan tentang apa yang dimaksud dengan homeschooling. Kebingungan ini diperburuk karena setiap negara memiliki definisi khusus tentang apa yang dimaksud dengan homeschooling, dan negara yang berbeda memiliki definisi yang berbeda. Belum lagi setiap institusi pendidikan pasti punya definisi sendiri tentang homeschooling, siapa yang memberikan pendidikan, berapa jumlah tutor dsb, pastinya definisinya jadi tambah rancu. Mari kita lihat apakah artikel ini dapat memberikan sedikit pencerahan pada kebingungan-kebingungan yang ada ini.

Karakteristik Fundamental

Meskipun ada banyak cara untuk homeschool, mari kita batasi diskusi kita ke situasi paling dasar, atau apa yang bisa disebut paradigma dari homeschooling. Dengan memahami paradigma homeschooling ini, kita dapat mengambil karakteristik kunci dari definisi homeschooling.

Pertama, orang tua yang homeschool telah membuat keputusan sadar untuk mengelola pendidikan anak mereka ke tingkat yang jauh lebih besar daripada sekedar ‘bersekolah’ pada umumnya. Pada intinya, orang tua yang menerapkan homeschooling telah memutuskan untuk mengendalikan pendidikan anak mereka dalam setiap detail. Mereka memutuskan materi apa yang akan dipelajari, buku apa yang akan digunakan, berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk belajar, dan banyak detail lainnya. Mereka tidak memberikan keputusan ini kepada orang lain, seperti kepala sekolah, guru pribadi, atau bahkan pejabat pemerintah.

Apa itu Homeschooling? Homeschooling Pena Kedua, seorang anak yang belajar di rumah melakukan pekerjaan sekolahnya di rumah. Ini tampaknya agak jelas, tetapi sekali lagi kita melihat karakteristik paling mendasar dari homeschooling. Seorang anak yang belajar di rumah tidak pergi ke lokasi lain untuk pendidikan mereka, bukan sekolah, bukan gereja, bahkan rumah orang lain. Sekalipun seorang anak yang belajar di rumah mungkin mengambil kelas khusus di tempat lain, pusat pendidikan anak tersebut tetaplah di rumah.

Ketiga, orang tua homeschooling bertanggung jawab atas materi pendidikan untuk anaknya. Walaupun pihak ketiga dapat disewa untuk menjelaskan topik tertentu, orang tua memegang tanggung jawab akhir dari materi yang diajarkan. Orang tua memastikan anak melakukan tugas, orang tua memastikan tugasnya dinilai, dan orang tua bertanggung jawab atas catatan progress pendidikan anak. Orangtua dapat menggunakan sumber luar untuk membantu mereka dengan tugas ini, tetapi tanggung jawab terakhir ada pada orang tua.

Siapa yang Mengajar

Seorang guru homeschool bisa jadi anggota keluarga; tidak harus orang tua. Seorang kakek-nenek, saudara, paman, atau sepupu, bisa juga menjadi guru untuk anak homeschool. Karena itu, biasanya guru utama anak yang belajar di rumah adalah orang tua atau kakek-nenek, karena alasan yang jelas (disiplin, tanggung jawab, dll.).

Sementara seorang anak dapat mengambil kelas yang diajarkan oleh seseorang yang dibayar, memiliki guru berbayar (tutor) sebagai guru utama di homeschool kadang-kadang bisa menjadi masalah. Beberapa negara mensyaratkan bahwa jika seseorang dibayar untuk homeschooling seorang anak, orang itu membutuhkan lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh negara. Jika Anda berpikir untuk mempekerjakan seorang tutor untuk mengajar anak Anda di rumah, Anda perlu bertanya kepada Departemen Pendidikan di negara Anda untuk menentukan persyaratan yang tepat.

Baca juga Kelebihan Dan Kekurangan Homeschooling

Apa yang Harus Dilakukan Untuk Memulai Homeschool Anak Anda

Ada dua persyaratan yang perlu Anda penuhi untuk dapat Apa itu Homeschooling? Buat anak Anda. Pertama adalah persyaratan hukum negara tempat Anda tinggal. Ini kadang-kadang bisa membingungkan, jadi pastikan Anda meneliti persyaratan ini secara menyeluruh. Beberapa kabupaten juga akan memiliki persyaratan khusus untuk homeschooling, jadi Anda perlu memeriksa dengan dewan pendidikan lokal Anda juga. Bersikaplah gigih dengan pejabat pemerintah karena mereka mungkin berusaha mencegah Anda dari homeschooling.

Persyaratan kedua adalah menyusun sumber daya yang ingin Anda gunakan untuk upaya homeschooling anak Anda. Ini biasanya seperangkat buku dan koleksi perlengkapan sekolah normal. Buku-buku dapat berupa kurikulum yang disiapkan atau hanya satu set buku teks individu. Kedua hal ini dapat ditemukan secara online, dan banyak negara bagian memiliki konvensi untuk homeschooling di mana Anda dapat membeli buku juga. Anda harus memulai dari yang sederhana, dengan fokus Anda pada dasar-dasar membaca, menulis, dan berhitung. Anda dapat menambahkan subjek lain nanti, setelah Anda memulai; namun, jika Anda ingin memulai dengan subjek tambahan lainnya (seni, sejarah, sains, dan sebagainya), tentu Anda harus melakukannya.

Panggilan untuk bertindak

Banyak orang tua tidak puas dengan pendidikan yang dapat diperoleh anak mereka di sistem sekolah yang ada. Jika Anda adalah salah satu dari orang tua ini, saya akan sangat menyarankan Anda mempertimbangkan homeschooling sebagai alternatif dari mengirim anak Anda ke sekolah setiap pagi. Dari pengalaman pribadi, saya dapat mengatakan Apa itu Homeschooling? Bahwa homeschooling adalah salah satu cara terbaik untuk mendidik anak Anda. (Adm-HS. Pena)

Perbedaan Homeschooling Dengan Sekolah Formal

Seperti yang banyak kita ketahui, bahwa homeschooling sudah menjadi metode pendidikan alternatif bagi para keluarga sekarang ini. Mungkin juga andalah salah satu yang menggunakan homeschooling. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas apa itu homeschooling dan apa perbedaan homeschooling dengan sekolah formal, selain itu kita juga akan membandingkan mengenai biaya homeschooling dengan sekolah formal. Pastikan anda menyimak artikel ini hingga tuntas tanpa meninggalkan satu katapun.

Apa itu homeschooling

Bisa dikatakan ini merupakan metode belajar yang dilakukan dirumah, dengan bantuan guru privat atau dengan orang tua sendiri sebagai gurunya. Nah dari penjelasan diatas, menurut saya sendiri homeschooling itu adalah rangkuman dari penjelasan tadi. Tidak penting siapa yang akan menjadi guru atau pembimbing anak yang melakukan homeschooling, karena orang tua bisa memilih dan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan anaknya.

homeschoolingHomeschooling sendiri dalam bahasa Indonesia bisa dibilang sebagai sekolah yang dilakukan di rumah, bersekolah atau melakukan kegiatan belajar mengajar dirumah bukannya di sebuah gedung sekolahan. Itu bila menurut bahasa Indonesia, beda halnya dengan pendapat para pakar pendidikan. Mereka mengatakan bahwa kegiatan ini adalah istilah dari sekolah mandiri, sehingga tanggung jawab dalam proses dan hasil pendidikan anaknya secara penuh berada di tangan orang tua bukan pada guru atau lembaga formal sekolah. Ini Perbedaan Homeschooling yang paling menonjol.

Secara umum homeschooling adalah sebuah model pendidikan dimana rumah menjadi pusat dari kegiatan ini, secara sadar orang tua bertanggung jawab penuh atas pendidikan anaknya.

Persamaan homeschooling dengan sekolah formal:

  • Sekolah formal dan homeschooling sama- sama bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada anak.
  • Memiliki tujuan yang sama dimana untuk mencari kebaikan dan menggali potensi optimal yang dimiliki oleh anak.
  • Sama- sama memiliki fungsi sebagai pengantar anak- anak pada tujuan pendidikan, memiliki modal intelektual, mental, dan spiritual yang memadai untuk menghadapi masa depan dengan penuh harapan.

Baca juga Kelebihan dan Kekurangan Homeschooling

Nah, bila kita sudah mengerti sedikit mengenai persamaan dari kedua model pembelajaran ini. Berikut ini perbedaan dari kedua model pembelajaran ini.

  1. System pendidikan
    Sekolah formal menggunakan standar yang disesuaikan oleh lembaga sekolah dan juga departemen pendidikan nasional.
    Homeschooling lebih bertujuan kepada kebutuhan anak dan kondisi keluarga untuk mengembangkan potensinya.
  1. Fasilitas pembelajaran
    Sekolah formal memiliki fasilitas yang lengkap dan bisa dibilang memadai untuk tumbuh kembang anak, seperti perpustakaan, lab bahasa maupun sains, lapangan untuk berolahraga dan fasilitas pendukung lainnya.
    Berbeda dengan model homeschooling yang lebih prefer kepada fasilitas yang ada dirumah, semua tergantung dengan kelengkapan dari fasilitas rumah itu sendiri.
  1. Kurikulum
    Sekolah formal memiliki kurikulum yang ketat karena sudah menjadi rancangan dari lembaga sekolahan dan juga departemen pendidikan nasional. Beda halnya dengan homeschooling yang memiliki kurikulum yang fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan bakat dan minat anak itu sendiri. (Adm-HS. Pena)